0 produk di keranjang belanja Anda
No products in the cart.

Wah! Ojk Setop Sementara Pendaftaran Pinjol Gres

Otoritas Jasa Keuangan alias OJK memberlakukan moratorium atau menghentikan sementara pendaftaran perusahaan sumbangan online. Alasannya, saat ini jumlah perusahaan pinjol atau fintech lending di Indonesia telah sungguh jenuh. Hal tersebut dinilai tidak sebanding dengan ruang pengawasan.

pinjol pinjaman online

Riswinandi, Anggota Dewan Komisioner dan Kepala Eksekutif Bidang Industri Keuangan Nonbank (IKNB) mirip dilaporkan CNBC Indonesia menuturkan pihaknya membutuhkan infrastruktur pengawasan yang lebih ketat terhadap para pelaku perjuangan pinjol tersebut.

OJK catat 164 perusahaan pinjol

Data OJK mencatat hingga dikala ini terdapat 164 perusahaan fintech lending di Indonesia yang telah beroperasi.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 152 perusahaan pinjaman online tercatat sebagai perusahaan bantuan online konvensional dan 12 sisanya adalah fintech lending syariah.

Sebagian besar atau sekitar 154 pinjol beroperasi di daerah Jabodetabek. Sisanya Bandung, Surabaya, Lampung, Makassar, Badung dan Yogyakarta.

Jika dilihat secara kepemilikan, sekitar 113 lembaga dimiliki oleh perusahaan setempat. Sementara 51 tersisa dikempit oleh perusahaan abnormal.

Hingga Desember 2019, total aset di industri derma online sudah meraih lebih dari Rp3 triliun. Sementara itu, total outstanding tunjangan yang sudah didistribusikan oleh forum pinjol nilainya sudah mencapai Rp81,50 triliun.

Jumlah tersebut naik 259% persen dibanding total outstanding santunan pada tahun 2018 lalu yang cuma bertengger di angka Rp13,16 triliun.

(Baca juga: Selama 2018-2019, Ada Lebih dari 1.800 Fintech P2P Lending Ilegal Ditindak!)

Demi bisnis fintech sehat

OJK paham betul argumentasi moratorium fintech lending dilaksanakan tak lain untuk menyehatkan industri tersebut supaya bisa menguntungkan semua pihak.

Selain melindungi konsumen, OJK juga berharap adanya kenaikan kualitas, infrastruktur sampai pengawasan yang betul-betul ketat.

Ke depan, bagan pertolongan ini akan berlaku layaknya perbankan adalah adanya pengecekan data nasabah seperti sketsa BI checking.

Aksi tersebut dikerjakan tak lain untuk mencegah penyaluran kredit yang berlebihan kepada peminjam tanpa memperhatikan kemampuan bayar.

Selain itu, OJK akan memutuskan bahwa perusahaan pinjol yang baru mesti telah tergabung atau paling tidak menjadi bagian AFI alias Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia.

Waspada pinjol ilegal

Pada Januari kemudian, OJK mendapatkan sekitar 120 entitas pinjol ilegal yang beroperasi lewat situs web, aplikasi ataupun pesan SMS.

Hal yang sangat berisiko merugikan penduduk saat mengakses pinjol ilegal contohnya adanya intimidasi sampai bahaya terhadap para penunggak pertolongan.

Hal serupa diterima oleh Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI). Lembaga ini banyak mendapatkan unek-unek dari masyarakat yang meminjam kepada pinjol yang diintimidasi sampai penarikan aset oleh pengelola pinjol tersebut.

Untuk itu, kepada penduduk diimbau semoga waspada dan berhati-hati agar memilih mana perusahaan pinjol yang resmi dan ilegal untuk menyingkir dari kerugian sebagai peminjam. Namun, bukan bermakna meminjam ke pinjol resmi boleh menunggak.

(Baca juga: Cairin, Aplikasi Pinjol yang Transfer Dana Lewat 4 Langkah Mudah)

Cara kondusif mengakses pinjol

Harus diakui, masyarakat dikala ini memang belum banyak yang melek dengan literasi keuangan.

Terutama bagi mereka yang sedang kepepet untuk meminjam uang. Salah-salah, mereka terjebak dengan mengakses perusahaan fintech ilegal yang merugikan.

Untuk memutuskan statusnya bahu-membahu cukup gampang. Kamu hanya tinggal cek di situs resmi OJK.

Di situs tersebut tertera secara terperinci daftar perusahaan apa saja yang sudah berizin dan belum. Dengan demikian upaya untuk menyingkir dari tunjangan online ilegal bisa dijalankan dengan gampang.

Namun, itu saja belum cukup. Kamu sebisa mungkin harus membaca rincian segala kriteria dan ketentuan dari perusahaan pemberi bantuan.

Jangan biarkan lembaga keuangan online tersebut meminta untuk bisa mengakses data dan akses langsung di perangkat mobile kamu yang terang-jelas tidak ada relevansinya sama sekali.

Satu hal yang tak kalah penting adalah, mengajukan pertanyaan dulu kepada diri sendiri, seberapa penting kau membutuhkan bantuan online.

Sekedar mengingatkan, jangan sampai mengakses sumbangan online cuma untuk dipakai secara konsumtif. Karena kegiatan konsumtif apalagi yang berlebihan hanya akan menyengsarakan kau di era depan. Yuk terusan dukungan online yang aman dan resmi.