0 produk di keranjang belanja Anda
No products in the cart.

Status Corona Di China Kembali Meningkat? Simak Artikelnya!

Pada penghujung 2019 kemudian didapatkan masalah penyebaran virus corona model modern. Yang berjulukan Novel Coronavirus dengan penyebaran pertama terjadi di kota Wuhan, Provinsi Hubei, Republik Rakyat China.

status corona di china

Virus ini lalu menyebar ke kota yang lain di China dan menyebar ke lebih dari 200 negara. Sehingga World Health Organization menyebut kasus ini sebagai pandemic global dan menamai virus tersebut dengan Coronavirus Disease 2019 (Covid-19).

Sedikitnya tercatat 81.708 masalah orang yang terjangkit virus ini di China dengan jumlah kematian lebih dari 3.300 jiwa. Berdasarkan informasi yang beredar, penyebaran virus ini di China mulai berangsur mereda dan penyebaran terbanyak ketika ini justru terjadi di Amerika Serikat dan Italia.

Secara global sudah lebih dari 1,92 juta orang terinfeksi Covid-19 dengan korban jiwa mencapai 119.403 orang.

Namun, banyak orang mewaspadai kebenaran yang menyebutkan perkara virus corona di China mulai membaik. Sebagaimana disampaikan oleh analisis dari sejumlah media internasional.

Ancaman gelombang kedua Covid-19 di China

Pada dasarnya, China sudah melalui puncak kurva penyebaran Covid-19 pada 12 Februari lalu dengan jumlah masalah harian mencapai 14.108. Provinsi Hubei tempat awal penyebaran virus tersebut telah dibuka kembali sehabis dua bulan diisolasi sarat . Warga juga sudah kembali beraktivitas di luar rumah dan bikinan industri telepon genggam dan manufaktur juga mulai berangsur pulih.

Akan tetapi, dikala ini China kembali menghadapi bahaya dan kegelisahan gres. Dengan kembali naiknya laporan penularan harian dari Covid-19 ini.

Menurut data Worldometer, ada 108 perkara gres di China pada 12 April yang berkembangdari sehari sebelumnya yang sebanyak 99 perkara. Meski begitu, kenaikan perkara tersebut belum melebihi puncak kurva pada 5 Maret kemudian dengan 143 perkara.

Gelombang kedua penyebaran virus corona di China berdasarkan pemerintah setempat yaitu penularan virus oleh warga China yang pulang dari luar negeri. Dan juga dari orang tanpa tanda-tanda (OTG) atau yang dikenal asimtomatik yang kini menjadi perhatian di China.

Ahli epidemologi WHO memprediksi sekitar 75% pasien di China tidak menawarkan gejala dan pada gilirannya menawarkan tanda-tanda terinfeksi Covid-19. Keberadaan OTG mempersulit pelacakan pasien.

China merilis data OTG yang dites konkret, meskipun banyak pihak yang mewaspadai keterbukaan data di China. Pada 5 April lalu terdapat lebih dari 700 pasien yang tersebar di seluruh negara dan ketika ini berada dalam pengawasan ketat.

Penyebaran Covid-19 dari imported case

China ketika ini juga direpotkan dengan penyebaran Covid-19 yang berasal dari imported case. Atau yang berasal dari penyebaran lewat orang yang pulang dari luar negeri. Pada 3 April kemudian terdapat 18 dari total 19 kasus harian yang berasal dari imported case. 4 di antara pasien tersebut meninggal di Provinsi Hubei.

Wuhan kembali menghadapi bahaya menjadi episentrum Covid-19 setelah ada perkara impor tersebut. Yang terjadi dua pekan setelah pejabat setempat memberikan untuk membuka isolasi di Hubei.

Pejabat lokal di provinsi tersebut meminta biar penduduk tidak keluar rumah jika tidak ada keperluan mendesak. Karena tren penularan dari luar negeri meningkat di China pada pekan pertama April.

Berdasarkan laporan, terdapat 38 kasus impor dari 39 masalah Covid-19 per hari pada 5 April dengan dua orang meninggal. Satu di antaranya berasal dari Hubei.

Kemudian pada hari selanjutnya, Komisi Kesehatan Nasional China melaporkan 32 kasus baru dari penularan mancanegara, tetapi tidak ada korban meninggal pada 6 April. Lalu, pada 12 April secara keseluruhan tercatat ada 82.160 masalah Covid-19 dengan 3.341 orang meninggal dan 77.663 dinyatakan sembuh.

Ahli klinis Covid-19 dari Shanghai bernama Zhang Wenhong mengatakan pandemic ini belum akan selsai pada demam isu panas. Dan diperkirakan akan ada gelombang kedua sehabis isu terkini gugur atau pada abad September-Oktober di China.

Oleh alasannya adalah itu, beliau menyarankan biar pemerintah mampu mengatur masalah imported case untuk menangkal penularan perkara baru. Serta meminta warga tetap mempertahankan jarak, mengenakan masker di kawasan biasa , dan sering basuh tangan.

Dia menerangkan penularan masalah dari mancanegara terjadi alasannya warga China yang bekerja ataupun belajar di aneka macam negara yang menjadi episentrum Covid-19 mirip Iran, Italia, dan Rusia mulai kembali ke negaranya sehabis Hubei tidak lagi berstatus lockdown.

Warga yang kembali dari negara zona merah corona mesti menjalani karantina selama 14 hari di China sesuai prosedur, tetapi beberapa perkara didapatkan tanpa tanda-tanda.

Data modern pada 13 April di China terdapat 98 masalah impor Covid-19 yang melibatkan pendatang dari luar negeri yang datang di China. Jumlah tersebut melampaui hari sebelumnya yang tercatat ada 97 perkara impor. Sementara itu, jumlah perkara tanpa tanda-tanda pada 13 April sebanyak 61 masalah, turun dari 63 masalah pada hari sebelumnya.

Data dan angka pemerintah China diragukan

Selama ini China memiliki reputasi yang buruk terkait informasi angka resmi yang diyakini dunia internasional. Khususnya terkait data perekonomian yang menjadi indikator utama kemajuan negara dan juga kesuksesan Partai Komunis sebagai partai penguasa.

Tidak seperti pada umumnya negara, angka Produk Domestik Bruto (PDB) triwulanan China sudah lama dianggap selaku tutorial ketimbang refleksi akurat dari kinerja ekonomi aktualnya.

Sebelum pandemi ini, pemerintah China bermaksud untuk kemajuan sekitar 6% pada tahun 2020. Selama bertahun-tahun ramalan ini nyaris selalu tercapai, dengan hampir tidak ada batas kesalahan (margin of error).

Namun, data-data perkembangan ekonomi yang konsisten tersebut justru mengakibatkan kecurigaan banyak pihak. Dominasi Partai Komunis kadang-kadang tergantung pada asumsi atau sasaran yang bahkan bila hal itu tidak benar-benar terpenuhi.

Sebaliknya, Partai Komunis menyembunyikan realita saat hal itu tidak sesuai dengan tujuan yang dinyatakan partai.

Beberapa pejabat tingkat provinsi sudah dihukum secara terbuka sebab mengajukan angka PDB imitasi.

Beberapa asumsi menempatkan kemajuan ekonomi faktual China yaitu setengah dari jumlah yang disebutkan.

Di periode kemudian, beberapa analisis independen memakai angka pembangkit listrik provinsi untuk menawarkan PDB lebih rendah dari angka resmi.

Jika China mampu menghadapi tuduhan terus-menerus, bahwa negara itu tampaktidak terperinci terkait sesuatu yang sama pentingnya dengan PDB, bukan hal yang besar untuk berpikir bahwa mereka akan bertingkah sama terkait sesuatu yang serupa pentingnya dengan Covid-19.

Kasus Covid-19 sempat disembunyikan China

Awal mula penyebaran virus corona terjadi pada Desember 2019 kemudian di Wuhan, Hubei, China. Dan bukan rahasia lagi bahwa China memang sempat menyembunyikan keberadaannya, luasnya dan tingkat keparahannya pada tahap-tahap awal.

Walikota Wuhan sejak usang mengakui ada kurangnya tindakan antara permulaan Januari – saat sekitar 100 kasus telah dikonfirmasi – dan 23 Januari, saat pembatasan seluruh kota diberlakukan.

China melaporkan virus itu ke WHO pada 31 Desember. Tetapi banyak pihak sudah mengenali, pada abad waktu tersebut ada seorang dokter berjulukan Dr. Li Wenliang yang menjajal memperingatkan rekan-rekannya tentang wabah virus sejenis Sars, tetapi justru dihadiri oleh kepolisian untuk dibungkam. Dia tidak sendiri, karena pihak-pihak lain yang menjajal memperingatkan adanya kasus ini juga dibungkam.

Pada kesudahannya, Dr Li juga harus meninggal akibat serangan dari virus corona tersebut.

Pada bulan Maret lalu, tidak usang sesudah Presiden Xi Jinping melakukan kunjungan pertamanya ke Wuhan sejak wabah Covid-19, tidak ada perkara gres yang dikonfirmasi di seluruh daratan China, kecuali provinsi Hubei.

Sekitar waktu kunjungan Presiden Xi, kantor isu Jepang Kyodo News melaporkan kegundahan seorang dokter yang tidak disebutkan namanya di kota itu, yang mengatakan para pejabat menginstruksikan beliau dan dokter yang yang lain untuk tidak memasukkan masalah-perkara baru dari angka resmi.

Sementara itu, pemerintah AS telah melangkah lebih jauh, berdasarkan laporan terbaru dari Bloomberg.

Laporan intelijen resmi ke Gedung Putih menyimpulkan bahwa pelaporan China sengaja tidak lengkap dan jumlahnya imitasi.

Ada beberapa argumentasi China menutupi wabah tersebut, antara lain untuk menyembunyikan krisis kesehatan masyarakat yang mau datang, untuk menangkal kepanikan, atau mungkin untuk mengelola pemberitaan dengan keinginan angka tidak berkembangdan tidak akan pernah sepenuhnya terungkap.

China mulai berupaya lakukan transparansi data

China pada periode Maret kemudian mulai mencoba memperbaiki reputasinya terkait keterbukaan data.

Perdana Menteri China Li Keqiang – orang nomor dua dalam politik China – pada medio Maret lalu telah menyampaikan semua tempat mesti menuntut keterbukaan berita secara transparan.

Dr Li dan dokter pelapor yang lain yang pada awalnya dihukum dan telah meninggal karena virus dinyatakan sebagai martir nasional resmi.

Beberapa ahad sesudah penguncian wilayah di Wuhan, media pemerintah melaporkan bahwa presiden secara pribadi sudah memimpin pertemuan ihwal penyakit itu pada ahad pertama Januari, walaupun klaim ini tidak dilaporkan pada ketika itu.

China sudah mengirim perlindungan dan tenaga medis ke negara-negara yang paling memerlukan, seperti Italia, namun juga negara yang lain, mirip Serbia, yang ialah sekutu yang sedang membutuhkan.

Dan pemerintah China mengklaim tahap pertama percobaan vaksin pada insan yang mungkin telah akhir, cuma dalam waktu beberapa ahad.

Terlepas dari urusan data tersebut, kita semua berharap biar penyebaran wabah virus corona di China dan seluruh negara utamanya Indonesia bisa segera tamat agar kehidupan bisa kembali normal seperti sebelum ada wabah ini.