0 produk di keranjang belanja Anda
No products in the cart.

Penting Dia Aturan Mengganti Puasa Ramadhan Yang Benar

Tinggal menjumlah hari, umat Muslim di seluruh dunia akan melaksanakan ibadah puasa 2020. Jika hingga dikala ini kamu belum menuntaskan hutang puasa sebelumnya, berikut hukum mengganti puasa Ramadhan yang perlu diketahui.

Ini Hukum Mengganti Puasa Ramadhan yang Benar

Puasa Ramadhan yakni salah satu kewajiban yang mesti dipenuhi oleh seluruh umat Islam di dunia. Namun ada beberapa kondisi yang memungkinkan seseorang untuk tidak menjalani puasa. Misalnya sedang dalam kondisi sakit, hamil, nifas, menstruasi, dan tengah menjadi musafir.

Meski begitu, tetap saja ada kewajiban yang mesti dijalankan setelah bulan Ramadhan berlalu. Kewajiban ini dikenal pula sebagai puasa ganti atau puasa Qadha.

Dalam pelaksanaannya, puasa Qadha serupa dengan puasa Ramadhan. Namun memang ada beberapa ketentuan yang harus diperhatikan. Agar lebih terperinci, berikut CekAja rangkum dari berbagai sumber mengenai hukum mengganti puasa Ramadhan.

Kapan Batas Waktu Mengganti Puasa Ramadhan?

Dalam hukum mengubah puasa Ramadhan, disebutkan bahwa tidak ada ketentuan khusus perihal tenggat waktu mengganti puasa tersebut. Yang paling penting, kamu mampu melunasi kewajiban itu sebelum bulan Ramadhan berikutnya datang.

Tetapi ada pula beberapa ulama yang beropini jikalau puasa Qadha tidak dapat dilakukan ketika memasuki pertengahan bulan Sya’ban. Hal ini diungkapkan dalam Hadits Riwayat Abu Dawud yang berbunyi, “Bila hari memasuki pertengahan bulan Sya’ban, maka janganlah kalian berpuasa.”

Meski begitu, mengganti puasa Ramadhan lebih baik dilakukan secepatnya. Bahkan bila memungkinkan, kamu mampu melaksanakan keharusan tersebut pada bulan Syawal, guna mendapatkan keistimewaan berpuasa 6 hari.

Hukum Mengganti Puasa Ramadhan

Orang-orang dalam keadaan tertentu seperti sakit, hamil, sampai sedang dalam perjalanan jauh boleh saja tidak berpuasa selama bulan Ramadhan. Tetapi nantinya mereka mesti melunasi hutang puasa tersebut dalam bentuk puasa Qadha.

Hukum mengubah puasa Ramadhan ini wajib dilaksanakan sebagaimana sudah disampaikan dalam firman Allah SWT, yaitu QS. Al-Baqarah ayat 184 yang berbunyi:

“Maka barang siapa di antara sakit atau bepergian jauh, hendaklah ia mengganti shaum pada hari-hari lainnya. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya untuk membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Barang siapa yang dengan kerelaan hati melakukan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu kalau kau mengetahui.”

(Baca Juga: Tips Sehat dari Dokter Spesialis, Agar Kamu Bisa Menjalani Hidup Sehat)

Puasa Qadha setidaknya mesti dijalankan paling lambat dikala bulan Sya’ban, sebelum datangnya Ramadhan. Jika kau menunda kewajiban ini dikarenakan udzhur syar’i, mirip sakit, hamil, lupa, atau halangan lainnya. Maka kamu hanya perlu melaksanakan qadha kembali tanpa harus membayar kaffarah (denda).

Berbeda kondisinya bila kau sengaja menunda atau melewatkan puasa Qadha sampai memasuki bulan Ramadhan berikutnya, tanpa ada halangan yang mempunyai arti. Dalam perkara ini, setidaknya kamu harus membayar fidyah sebesar satu mud atau setara 543 gr (berdasarkan Malikiyah) materi makanan pokok untuk satu hari hutang puas Ramadhan.

Selain itu, terdapat pula 2 hukum yang berlaku dan sudah disepakati oleh para ulama, diantaranya seperti:

  • Hukum qadha sejatinya tetap ada dan tidak hilang meski sudah melewati Ramadhan berikutnya.
  • Wajib bertaubat, sebab menilai remeh dan sengaja menunda keharusan untuk puasa ganti tanpa mengalami udzhur syar’i.

Bacaan Niat dan Doa Berbuka Puasa Ganti

Niat puasa ganti tak ubahnya memiliki bacaan yang serupa dengan puasa Ramadhan. Bahkan tata cara pelaksanaannya hingga doa berbuka yang mesti dilafazkan pun tidak mengalami perbedaan.

Kamu cuma perlu mengucap, “Nawaitu shouma ghodin ‘an qadaa-in fardho romadhoona lillahi ta’aala”, sebagai niat permulaan untuk memulai puasa ganti.

Jika bacaan itu terlalu susah untuk dihafal, kamu pun mampu mencoba alternatif lain yaitu dengan menerjemahkannya dalam bahasa Indonesia. Berikut arti dari niat puasa ganti:

“Aku niat berpuasa esok hari alasannya adalah mengganti fardu Ramadhan karena Allah Ta’ala.”

Melakukan niat puasa ganti sama pentingnya mirip ketika kamu ingin menunaikan puasa Ramadhan. Tanpa niat, puasa yang kau jalani mampu dibilang tidak sah. Kamu mampu mengucapkannya sebelum mengkonsumsi hidangan sahur atau cuma berencana di dalam hati saja.

Setelah itu, kau bisa melanjutkan kegiatan dengan diawali solat subuh dan membaca Al-Alquran. Jika sudah, kerjakan puasa seperti pada umumnya dan tunggu waktu berbuka puasa yang ditandai dengan suara azan maghrib.

Dalam hukum mengubah puasa Ramadhan, doa berbuka puasa yang mampu kamu ucapkan ketika azan berkumandang, yakni:

“Allahumma lakasumtu wabika aamantu wa’alaa rizqika afthortu birohmatika yaa arhamar roohimiin.”

Artinya: Ya Allah alasannya adalah Mu saya berpuasa. Dengan Mu aku beriman, kepada Mu saya berserah dan dengan rezeki Mu aku berbuka puasa. Dengan rahmat Mu, Ya Allah Tuhan Maha Pengasih.

Sehabis membaca doa berbuka puasa ini, kamu mampu menyantap banyak sekali masakan dan minuman yang sudah disediakan. Sebaiknya jangan terlalu berlebihan ketika berbuka puasa, alasannya adalah ada dua keharusan lagi yang mesti kau penuhi, yaitu melaksanakan solat maghrib dan isya.

Nah, itulah informasi perihal aturan mengubah puasa Ramadhan. Semoga seluruh amal ibadah yang kita jalani apalagi saat memasuki bulan ampunan 2020 nanti diterima dengan layak oleh Allah SWT.