0 produk di keranjang belanja Anda
No products in the cart.

Nasib Barang Branded Terkena Pengaruh Covid-19, Berjamur Hingga Rusak

Dampak Covid-19, ternyata tidak cuma dinikmati oleh penduduk menengah ke bawah saja, alasannya adalah beberapa pebisnis barang-barang branded di beberapa negara, juga ikut kena imbasnya. Seperti kabar yang gres-baru ini trend, bahwa tampaksejumlah barang branded terkena pengaruh Covid-19, mulai dari berjamur, rusak, sampai toko yang mengalami anjloknya penjualan, balasan mall tutup sekitar hampir tiga bulan.

Nasib Barang Branded Terkena Dampak Covid-19, Berjamur hingga Rusak

Beberapa postingan dari akun Facebook yakni Nex Nazeum, tampaknasib barang branded terkena efek Covid-19 itu pun, terlihat menyedihkan. Bahkan, beberapa barang branded seperti sepatu, tas, hingga dompet, yang diketahui dari mall yang ada di Malaysia ini, telah tidak bisa dijual, alasannya adalah rusak.

Barang Branded yang Rusak Merupakan Keluaran Brand Fashion Ternama

Bahkan, beberapa barang-barang branded tersebut ialah keluaran merk fashion populer dunia. Sebut saja seperti POLO Ralph Lauren, Camel Active, di mana harganya bisa mencapai jutaan sampai puluhan juta.

Hal tersebut disangka balasan, kondisi ruangan toko yang ada di mall Metrojaya Malaysia, gelap dan lembab. Bayangkan saja, sekitar 3 bulan, barang-barang branded tersebut, tak menerima anutan udara yang bebas, alasannya adalah seluruh AC di mall dimatikan.

Diketahui juga, bahwa Malaysia memang sudah menerapkan lockdown semenjak bulan Maret 2020 kemudian, yaitu mulai 18 Maret 2020, dan kabarnya akan diperpanjang hingga 9 Juni 2020.

Berbeda dengan Indonesia, yang cuma menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), sehingga beberapa mall masih mampu kecolongan untuk tetap buka, apalagi dikala penghujung lebaran kemarin.

Meski begitu, baik lockdown maupun PSBB, pastinya sangat berpengaruh besar kepada sektor ekonomi, termasuk para pebisnis retail barang-barang branded.

(Baca Juga:bisnis-saat-corona-mewabah-nasabah-kta-ctbc-bisa-dapat-kemudahan”> Dampak Bisnis Saat Corona Mewabah, Nasabah KTA CTBC Bisa Dapat Kemudahan?)

Karyawan Dirumahkan, Toko Barang Branded jadi Tak Terurus

Selama lockdown di Malaysia, semua toko, mall, hingga pusat perbelanjaan ditutup total. Sehingga, para pekerja dan karyawan yang bekerja di mall pun, juga ikut terkena imbasnya, yakni dirumahkan atau di PHK.

Ketika semua karyawan dirumahkan, toko pun jadi terbengkalai, alasannya adalah tidak ada yang bisa mengontrol kondisi toko meski ditutup.

Kalau saja, ada karyawan yang berjaga shift, cuma untuk membersihkan toko, mungkin nasib barang branded terkena efek Covid-19 yang mengenaskan, itu tidak akan terjadi.

Barang Branded Lokal Indonesia juga kena Dampak Covid-19

Jika tadi adalah kabar trend yang tiba dari negara tetangga, di Indonesia sendiri beberapa pebisnis ritel juga merasakan dampak Covid-19.

Bukan berjamur dan rusak, beberapa brand setempat Indonesia merasakan bahwa penjualannya terjun bebas alias menurun, sebab toko offline tutup.

Seperti salah satu brand busana ready to wear Cotton Ink, dimana Ria Sarwono, salah satu pendiri Cotton Ink, mengaku penjualan produknya menurun drastis.

Dilansir wolipop.detik.com, Cotton Ink pun alhasil menutup secara temporer setidaknya tiga toko di Senayan City, Plaza Senayan, dan Kota Kasablanka.

Sehingga, mereka hanya mengandalkan penjualan dari online store, dan cuma mampu berusaha untuk tetap bertahan hidup hingga 6 bulan ke depan. Itu pun mereka mesti mengatur strategi setiap harinya, agar perusahaan tak terlalu merugi.

Mereka berharap, keadaan bisa cepat kembali wajar . Karena, mereka juga mesti menimbang-nimbang pengeluaran marketing, seperti membayar sewa toko di mall, dan suplier.

Selebriti Lelang Barang Branded untuk Galang Dana Covid-19

Melihat keadaan negaranya yang kian memburuk terkait perkara Covid-19, menciptakan salah satu selebriti Tanah Air, Zaskia Sungkar, merelakan untuk memasarkan beberapa barang branded miliknya adalah berbentuktas mewah.

Zaskia menjual tas branded miliknya melalui akun Instagramnya. Tujuan penjualan barang branded tersebut, ialah untuk menggalang dana yang akan disalurkan untuk membantu para korban Covid-19, masyarakat yang terkena pengaruh dan tenaga medis Indonesia.

Tas-tas branded tersebut bukan tas biasa, melainkan tas tersebut keluaran perusahaan fashion terkemuka dunia mirip Louis Vuitton, Hermes, dan Gucci. Harganya pun ditaksir mulai dari puluhan juta sampai ratusan juta.

Covid-19 jadi Peluang Bisnis Fashion di Tangan Orang Kreatif Ini

Jika beberapa pengusaha barang branded yang terkena imbas Covid-19 harus merugi, tampaknya yang dilansir majalah Business of Fashion, bahwa industri fesyen dunia akan mengalami pemasaran sebesar 27-30 persen.

Sebut saja mirip beberapa label fashion terkemuka dunia seperti Burberry, Prada, dan Michael Kors. Dimana mereka sejauh ini telah melaporkan penurunan penjualannya di kala pandemi.

Namun, tampaknya Covid-19 tidak selamanya akan menciptakan dunia fashion merana. Pasalnya, di tangan-tangan orang inovatif ini, Covid-19 menjadi sumber pandangan baru, salah satunya bagi para perajin disabilitas, yang tergabung dalam Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Harapan Mulia Desa Resapombo, Kecamatan Doko, Kabupaten Blitar, Jawa Timur.

Dilansir dari antara.com, Rita Sukirni Panca Rianik yang ialah pendamping KSM Harapan Mulia, menerima ide membuat suatu produk batik dengan teknik ciprat, bermotif virus corona.

Tidak cuma menjadi hiasan atau motif, gambar virus corona dibuat di atas kain itu pun, juga dijadikan selaku edukasi untuk masyarakat, bahwa bentuk virus corona kira-kira adalah seperti yang digambarkan pada batik ciprat tersebut.

Untuk jumlah pembatik di KSM tersebut ada 27 orang, yang terdiri dari para penyandang disabilitas tuna grahita. Namun, mereka juga tetap menerapkan protokol physical distancing, sehingga yang terlibat cuma beberapa orang saja.

Setidaknya ada sekitar tiga kain batik corona yang diproduksi KSH Harapan Mulia setiap harinya. Kain batik corona ini, dijual ke aneka macam kota di Indonesia, seperti Tangerang, Bandung, Yogyakarta, Malang dan Blitar.

Untuk harganya, dibanderol mulai dari Rp150.000 sampai Rp200.000 per kain. Kain batik corona ini, mampu dipesan lewat online dan Whatsapp. Karena untuk dijual secara offline, tentunya tidak mampu memungkin di tangah pandemi seperti ini.

(Baca Juga: 7 Makanan Unik Bertema Corona, Mulai dari Burger hingga Cup Cake Masker)

Nah, itu dia isu singkat terkait nasib barang branded yang terkena pengaruh Covid-19. Di mana dunia fashion ketika ini sedang kelimpungan untuk tetap bertahan hidup.

Namun, jikalau kau punya pemikiran yang kreatif mirip para penyandang disabilitas dari KSM Harapan Mulia, kamu juga mampu loh mengikuti jejaknya.

Saat Pandemi Penghasilan Tidak Ada, Bagaimana Mau Bangun Usaha?

Penghasilan terhenti sebab dampak Covid-19, dan kamu ingin putar otak dengan cara bangun perjuangan, tetapi modal enggak ada?

Jangan khawatir, alasannya adalah kini kamu mampu dengan gampang mengajukan sumbangan dana untuk modal perjuangan secara online, lewat situs CekAja.com.

Ada sumbangan apa saja sih di CekAja.com? Yuk, kepoin situsnya, dan ejekan santunan dana cepat sesuai kebutuhanmu sekarang juga, cuma di CekAja.com!