0 produk di keranjang belanja Anda
No products in the cart.

Mengenal Hoarding Disorder, Mulai Dari Pemahaman, Ciri, Hingga Penyebabnya

Hoarding disorder, dikenal selaku perilaku seseorang yang gemar menimbun barang, terutama barang-barang bekas, atau barang yang tidak terlalu bernilai. Namun, apakah perilaku ini dianggap sebagai suatu gangguan jiwa? Yuk, kita bahas di sini.

Mengenal Hoarding Disorder, Mulai dari Pengertian, Ciri, hingga Penyebabnya

Apa Itu Hoarding Disorder?

Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, bahwa hoarding disorder merupakan tindakan menguruk (hoard), barang yang sebetulnya mungkin telah tidak lagi dibutuhkan. Pengidap hoarding disorder umumnya, akan sulit untuk mencampakkan barang-barang tersebut, yang sebetulnya telah rusak atau sudah tidak terpakai.

Bahkan, pengidap juga akan mencicipi kecemasan hingga cemas, akan terjadi sesuatu yang buruk, jikalau barang tersebut dibuang atau diberikan ke orang lain. Namun, langkah-langkah menguruk barang tak terpakai ini, berbeda dengan kolektor barang.

(Baca Juga: Asuransi untuk Penyakit Psikologis)

Perbedaan Menimbun dengan Mengoleksi

Penimbun barang tak terpakai atau hoarding disorder, akan menyimpan barang apa pun, yang menurutnya penting dimanapun, bahkan bisa meletakkannya dengan sembarang. 

Sedangkan pengumpul barang, biasanya cuma mengoleksi barang tertentu, contohnya barang antik, barang dengan warna tertentu, perangko, uang jadul, dan lain-lain. Pengkolektor juga akan menyimpan barang koleksinya di kawasan yang kondusif, rapi, serta merawatnya. 

Ciri-ciri dan Apa Itu Hoarding Disorder

Hoarding Disorder Gangguan Jiwa?

Jika dilihat, keadaan tersebut memang tidak terlampau menyebabkan masalah besar, dan sikap yang tampak sederhana, tetapi hoarding disorder ternyata masuk dalam keadaan gangguan jiwa. 

Untuk tingkatannya, gangguan jiwa ini bisa diukur dari gangguan ringan hingga berat. Untuk gangguan hoarding disorder yang berat, mungkin telah berada di level banyaknya barang yang menumpuk, sehingga mengakibatkan sulitnya beraktivitas di dalam rumahnya sendiri.  

Ciri-ciri Hoarding Disorder

Adapun seseorang yang mengidap gangguan ini, terdapat beberapa ciri-ciri selaku berikut:

  • Merasa sulit untuk mencampakkan barang-barang bekas, yang sudah tidak terpakai dan tidak mempunyai nilai guna lagi.
  • Memiliki rasa cemas dan takut akan terjadi sesuatu yang jelek, jikalau barang-barang yang ia kumpulkan dibuang atau diberikan terhadap orang lain.
  • Sulit menciptakan keputusan, yang tidak hanya terjadi ketika sukar membuang barang, tapi juga sukar menciptakan keputusan pada hal-hal lain.
  • Merasa kehilangan atau marah, jikalau barang yang ditimbunnya disentuh, dipindahkan, atau bahkan dibuang oleh orang lain.
  • Tidak menerima kunjungan tamu untuk datang ke rumahnya, yang penuh dengan barang-barang timbunan. Hal tersebut dikarenakan dia merasa malu akan keadaan rumahnya.
  • Di tempat tinggalnya terdapat timbunan barang yang dikumpulkan, dan sudah mengurangi area beraktivitas di rumah, sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari.

Penyebab Seseorang Memiliki Gangguan Hoarding Disorder

Penyebab Seseorang Memiliki Gangguan Hoarding Disorder

1. Menganggap Barang Tersebut Bisa Digunakan Kembali

Penyebab hoarding disorder yang pertama adalah terperinci, bahwa mereka senantiasa menganggap barang tersebut, mampu digunakan kembali. Contohnya saja, seperti saat kamu menimbun kardus-kardus bekas, dan kau menganggap bahwa kardus tersebut bisa berguna untuk menyimpan sesuatu. 

Namun pada kesudahannya, kardus tersebut cuma tergeletak di tempat yang tidak wajar, sampai memenuhi ruangan di rumah dan pastinya mengusik kegiatan. 

Anggapan yang mirip ini memang kerap menciptakan seseorang merasa ragu, untuk membuang barang-barang yang telah dikumpulkan. Meskipun ada sedikit rasa ingin membuang, tapi kau cuma berniat untuk membuangnya lain waktu. 

Pada hasilnya, kamu pun lupa dan membiarkan barang-barang tersebut tak terpakai, hingga mengakibatkan kotoran serta bubuk, yang bisa membahayakan kesehatan.

2. Barang Tersebut Memiliki Kenangan

Penyebab hoarding disorder yang kedua adalah bahwa barang tersebut mempunyai kenangan tersendiri, sehingga pemilik merasa enggan untuk membuangnya, sampai memberikannya ke orang lain. 

Bahkan, seburuk apapun kondisi barang tersebut, niscaya mempunyai nilai yang berguna di mata pemilik, sehingga sungguh bermakna. Misalnya, kau sering menghimpun barang dari mantan, bahkan hanya suatu tiket bioskop yang tulisannya telah pudar. 

Namun, barang tersebut dianggap memiliki kenangan anggun bersamanya. Sehingga, bila kamu mencampakkan tiket bioskop tersebut, maka sama saja kau menghilangkan ingatan tersebut.

3. Pernah Mengalami Peristiwa Traumatis

Hoarding disorder juga bisa diakibatkan alasannya seseorang pernah mengalami peristiwa, yang menimbulkan syok mendalam. Misalnya, seperti pernah mengalami kebakaran rumah, ditinggal pergi orang terdekat, perceraian, dan yang lain. 

Sehingga, peristiwa-insiden tersebut mampu membuat seseorang lebih bahagia menyimpan barang, yang bahwasanya telah tidak lagi memiliki fungsi apapun. Meskipun barang tersebut telah kotor, berdebu, niscaya akan tersimpan, karena takut akan dibutuhkan atau dicari suatu saat nanti, selaku kenangan yang tersisa.

4. Menderita Gangguan Mental 

Hoarding disorder sendiri memang suatu gangguan kesehatan mental, yakni Obsessive Compulsive Disorder (OCD). Gangguan OCD sendiri ialah gangguan psikologis yang mampu menghipnotis fikiran (obsesif) dan perilaku (kompulsif) insan. 

Adapun, kelainan ini mengganggu fikiran penderitanya dengan menciptakan rasa bingung, cemas, cemas, takut, dan menuntut melakukan hal yang serupa beberapa kali.

Namun, ternyata tidak siapa saja yang menderita gangguan OCD, hobi menimbun barang bekas. Orang-orang yang kegemaran menyimpan barang bekas, lazimnya dijalankan selaku respons atas stres, dan menganggap bahwa mempunyai banyak barang membuat mereka merasa lebih kondusif dan senang. 

Gangguan kecemasan, juga mampu menjadikan seseorang kegemaran menimbun barang bekas. Hal tersebut terjadi karena mereka cemas akan suatu keputusan yang dibuat atas kepemilikan barang. 

Dari keempat penyebab di atas, bahwasanya penyebab hoarding disorder masih belum diketahui dengan terang. Akan tetapi hal-hal di atas, mampu menjadi alasan, mengapa seseorang memiliki sikap demikian. 

Nah, biar kamu mampu mengetahui hal apa yang sedang melanda kesehatan mentalmu, kamu mampu secepatnya konsultasikan ke dokter. Biasanya penderita hoarding disorder, mampu melakukan perawatan di antaranya adalah  Cognitive Behavioral Therapy (CBT) atau terapi sikap kognitif.

(Baca Juga: Jika Merasakan 4 Hal Ini, Segera ke Psikolog!)

Bagaimana? Sudah mengenali apa itu gangguan hoarding disorder bukan? Mulai dari pemahaman, ciri, hingga faktor penyebabnya. Jika kau mempunyai ciri-ciri hoarding disorder, yang telah disebutkan di atas, janganlah ragu untuk berkonsultasi dengan dokter. 

Agar lebih nyaman dikala berkonsultasi dan mendapatkan pelayanan terbaik, tentukan kau sudah memiliki asuransi kesehatan. Setidaknya, asuransi kesehatan juga bisa dipakai, dikala kau terjangkit sebuah penyakit, yang disebabkan tumpukan barang bekas di rumahmu. 

Buat kau yang belum memiliki asuransi kesehatan, bisa secepatnya usikan melalui CekAja.com. Mengapa harus di CekAja.com?

Di situs CekAja.com, kamu mampu memperoleh bermacam-macam produk asuransi kesehatan dari perusahaan asuransi ternama di Indonesia. Selain itu, kau juga akan disarankan ke beberapa produk asurnsi yang paling sempurna, sesuai dengan kebutuhan dan kesanggupan finansialmu.

Yuk, secepatnya olok-olokan asuransi kesehatan terbaik pilihanmu, cuma di CekAja.com, sebelum telat!