0 produk di keranjang belanja Anda
No products in the cart.

Mengenal 5 Hak Pelanggan Agar Gak Jadi Korban Penipuan Belanja Online

Pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di sejumlah kota di Indonesia, semakin menghalangi pergerakan warga untuk ke luar rumah. Banyak sentra perbelanjaan dibatasi jam operasionalnya, bahkan tutup sama sekali. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, berbelanja secara online mau tidak mau mesti dilakukan.

Namun, alasannya transaksi jual beli dilakukan melalui internet, maka yang bisa dijalankan kandidat pembeli hanyalah mencermati rincian barang yang mau dibelinya lewat foto-foto dan deskripsi barang yang dicantumkan penjual.

Setelah memutuskan untuk membeli barang tersebut, pembeli lantas mentransfer dana sesuai harga. Entah itu ke rekening pedagang eksklusif atau pihak ketiga jikalau memang bertransaksi lewat marketplace seperti Shopee, Tokopedia, Blibli, Lazada dan yang lain.

Meskipun menawarkan fasilitas dalam berbelanja alasannya adalah tidak mesti ke luar rumah, sayangnya berbelanja barang bermodal iktikad tersebut juga membuka celah penipuan.

Belum lama ini, seorang warga Palembang berjulukan Juan Puncan Endrile menjadi korban penipuan usai membeli secara online. Ia mengaku telah mentransfer dana sebesar Rp36,4 juta kepada salah satu penjual masker di Instagram bernama Intan Karlina.

Namun, dikala paket diterima, betapa terkejutnya Juan karena isinya bukan masker tetapi batu bata. Sialnya, dikala Juan meminta konfirmasi atas barang yang diterimanya, nomor telepon penipu sudah tidak aktif lagi.

Tahu Hak Konsumen

Agar tidak menjadi korban penipuan ketika membeli online, kamu tentunya harus tahu hak-hak kamu selaku konsumen. Apalagi kalau kamu bertransaksi dengan nilai yang tidak mengecewakan besar mirip teladan di atas.

Tujuannya supaya kamu tahu kemana mesti mengadu kalau tertipu, termasuk melengkapi bukti-bukti yang diharapkan petugas kepolisian untuk menindaklanjuti masalah tersebut.

Terus, apa saja sih yang menjadi hak pelanggan? Sesuai Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 ihwal Perlindungan Konsumen (UU PK), bantu-membantu hak antara konsumen yang bertransaksi secara online atau offline tidak dibedakan.

Semua hak konsumen masuk dalam Pasal 44 UU PK, dan berikut 5 diantaranya yang sering kita temui dalam transaksi jual beli online:

1. Hak atas ketentraman, keselamatan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa.

Kaprikornus jikalau kau membeli obat pelangsing secara online, tetapi ternyata sesudah mengonsumsi obat itu masuk Instalasi Gawat Darurat (IGD) karena keracunan padahal pedagang menjamin obat tersebut aman. Maka kau berhak melaporkan pedagang tersebut sebab melanggar hak keselamatan dan keamanan kamu.

2. Hak atas gosip yang benar, terang, dan jujur tentang keadaan dan jaminan barang dan/atau jasa.

Kamu pasti pernah membeli barang secara online, tetapi barang yang kamu terima ternyata berbeda kualitas, warna, bentuk, atau deskripsi lainnya dengan yang dijanjikan pedagang ? Kalau pernah, kamu berhak melaporkan penipuan yang kau alami.

3. Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang dipakai.

Saat menerima barang yang kau beli ternyata tidak sesuai dengan deskripsi penjual, tentu yang pertama muncul di benak kamu yaitu komplain terhadap pedagang bukan? Nah, jikalau pedagang secara tiba-tiba tidak bisa dihubungi atau tidak membalas ganjalan, hak kau selaku pelanggan sudah dilanggarnya.

4. Hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif.

Mentang-mentang harga barang yang kau beli murah, lantas saat kamu menanyakan lebih detail soal barang tersebut si pembeli menjawab sekenanya. Itu juga masuk kategori pelanggaran hak pelanggan loh.

5. Hak untuk menerima kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian, bila barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan kontrakatau tidak sebagaimana mestinya.

Konsumen berhak untuk menerima uangnya kembali, jika barang yang dibelinya tidak sesuai dengan yang dijanjikan dalam janji perdagangan. Kalau pedagang melarikan diri dan tak ingintanggung jawab, kau mampu melaporkannya ke pihak kepolisian seperti yang dilakukan oleh warga Palembang di atas.

(Baca juga: bisnis-online-yuk-manjakan-konsumen/” rel=”bookmark”>Saingan Ketat di Jagat Bisnis Online? Yuk, Manjakan Konsumen!)

Apabila penjual tidak melaksanakan kewajibannya, maka dapat dipidana menurut Pasal 62 UU PK dengan pidana penjara paling lama 5 tahun atau pidana denda paling banyak Rp2 miliar.

3 Cara Melaporkan Penipuan Belanja Online

Biasanya, korban penipuan belanja online hanya menunjukkan review dan komentar negatif di marketplace atau sosial media yang digunakan pedagang untuk berjualan.

Padahal ada 3 cara lain yang lebih ampuh untuk menciptakan si penipu jera dan menerima eksekusi loh. Walaupun kau harus melaksanakan upaya tambahan untuk membuat laporan, ini ia 3 cara melaporkan penipuan belanja online yang bisa kau lakukan:

1. Lapor ke kantor polisi

Hal pertama yang dilaksanakan Juan Puncan Endrile, warga Palembang yang beli masker senilai Rp36,4 juta tetapi mendapatkan kiriman watu bata ialah melaporkan masalah penipuan tersebut ke polisi.

Juan juga sudah tepat mempersiapkan beberapa hal sebelum beranjak ke kantor polisi terdekat, ialah menjinjing bukti transfer ke rekening penipu sebagai alat dasar penyidikan. Ia juga menyerahkan bukti komunikasi melalui aplikasi pesan singkat atas transaksi tersebut, sekaligus nomor handphone penipu.

Nantinya polisi akan mengembangkan laporan yang berisikan perihal identitas terlapor maupun pelapor. Setelah laporan kamu akhir dibuat, nantinya polisi akan menunjukkan Surat Tanda Penerimaan Laporan (STPL).

Surat ini menjadi bukti bahwa kamu telah melaporkan tindak penipuan yang kau alami. Selanjutnya, kau hanya menanti bagaimana kemajuan perkara tersebut dikerjakan oleh kepolisian. Kemudian kau akan menerima surat pemberitahuan pertumbuhan Hasil Penyidik (SP2HP).

2. Lapor ke polisi lewat email

Kecanggihan teknologi juga membuat lebih mudah kau dalam menciptakan laporan tindak pidana penipuan belanja online lewat email. Kamu tidak butuhpergi ke kantor polisi, cukup melapor lewat email ke pihak kepolisian.

Hal-hal yang harus kamu kerjakan ialah menawarkan isu selengkap-lengkapnya, bagaimana kamu bisa menciptakan kesepakatan transaksi dengan si penipu. Sertakan bukti-bukti pendukung, mirip bukti transfer dana, bukti komunikasi dikala bertransaksi dengan penipu. Sertakan pula data-data penipu, seperti nomor rekening, nomor handphone, maupun sosial media yang dipakai oleh penipu.

Kirimkan semua bukti dan data-data tersebut ke email resmi Kepolisian Indonesia, yakni [email protected].

3. Blokir rekening penipu

Kamu juga bisa berkontribusi menghalangi orang lain menjadi korban si penipu tersebut, caranya yaitu dengan memblokir rekening penipu dengan melaporkannya ke pihak bank.

Pada kesempatan pertama, sesudah kau yakin sudah menjadi korban penipuan, buat pengaduan ke Bank sehingga mungkin saja masih ada potensi uang kau kembali.

(Baca juga: Hari Hak Konsumen Sedunia: 3 Jurus Jitu Lepas Dari Jerat Utang Kartu Kredit)

Beberapa bank memiliki prosedur penanganan sendiri-sendiri atas pengaduan dari korban penipuan belanja online. Kamu bisa melaporkannya melalui call center, bank yang kamu gunakan dikala bertransaksi. Setelah itu, kau akan menerima klarifikasi mengenai mekanisme pengaduan pemblokiran rekening pelaku penipuan.

Berikut nama-nama bank beserta call center-nya: Bank BCA 1500888, BNI 1500046, CIMB Niaga, Mandiri 14000, BRI 14017.

4. Lapor ke pengurus marketplace dan minta pengembalian dana

Hampir semua marketplace besar seperti Shopee, Tokopedia dan yang yang lain telah menjadi mediator pembayaran transaksi dari pembeli ke penjual. Setelah pembeli mendapatkan barang yang dibeli melalui marketplace dan merasa puas dengan barang dan pelayanan dari pedagang , maka pembeli tersebut akan diminta untuk mengonfirmasi dana yang ditampung oleh pihak marketplace mampu diteruskan kepada pedagang .

Namun, kalau kamu merasa ditipu dan tidak rela uang kamu dicicipi begitu saja oleh penipu, maka kamu bisa mengajukan laporan telah menjadi korban penipuan oleh penjual tersebut. Sama mirip halnya melaporkan ke pihak kepolisian, kau perlu melengkapi kronologi serta bukti transfer, dan bukti ketidaksesuaian barang yang kamu beli dengan yang dijanjikan oleh penjual.

Biasanya, kurang satu Minggu, pihak marketplace akan menciptakan keputusan apakah akan mendapatkan laporan dan mengembalikan duit kau. Atau justru menilai pihak penjual telah benar dalam melaksanakan akhlak menjual barang dan meneruskan duit tersebut kepada pedagang .

Agar tidak menjadi korban penipuan ketika berbelanja online, ikuti tips-kiat di atas ya. Kenali hak kamu selaku konsumen, dan pahami apa yang harus kau lakukan ketika sadar telah ditipu.

Nah, buat kamu yang selama ini mencari nafkah dengan berjualan online, jangan lupa untuk senantiasa memenuhi hak para pembeli yang menjadi pelanggan kau ya.

Jangan cuma memprioritaskan untung saja. Karena pembeli yang puas dengan produk dan layanan kamu, pasti akan kembali lagi untuk berbelanja dan menjadi langganan setia.

Semakin banyak pelanggan, pastinya semakin banyak cuan yang mampu kamu dapatkan. Penuhi barang jualan toko online dengan stok barang-barang gres yang memang dibutuhkan oleh konsumen kau ya.

Kalau butuh modal suplemen untuk menyetok barang, usikan kredit tanpa agunan (KTA) ke Bank Permata saja. Bunganya rendah, syarat untuk menerimanya mudah, dan cepat prosesnya. 

Ajukan KTA Bank Permata untuk keperluan modal usaha lewat CekAja.com, kini juga!