0 produk di keranjang belanja Anda
No products in the cart.

Membeli Rapid Test Mandiri, Bolehkah Dilakukan Sendiri?

Seperti yang dikenali, sampai sekarang pandemi virus Covid-19 belum juga menemukan titik terang kapan akan usai. Masyarakat pun setiap harinya merasa makin khawatir dengan kondisi kesehatan masing-masing. Bahkan, banyak dari mereka yang membeli rapid test secara online. Meski membeli rapid test mampu berdiri diatas kaki sendiri, bolehkah dikerjakan sendiri?

Membeli Rapid Test Mandiri, Bolehkah Dilakukan Sendiri?

Apa itu Rapid Test?

Sebelum membicarakan lebih jauh ihwal pembelian dan pelaksanaan rapid test mandiri, ada baiknya bila kau mengenali apalagi dahulu definisi dari rapid test itu sendiri.

Sejatinya, rapid test merupakan sebuah tata cara skrining yang digunakan untuk mendeteksi antibodi, yang dibuat badan untuk melawan virus corona. Antibodi yang nantinya akan dideteksi ini ada dua jenis, ialah IgM dan IgG.

Kedua antibodi itu terbentuk dari paparan virus corona. Kaprikornus bila ketika rapid test kedua, antibodi IgM dan IgG ditemukan faktual, maka tidak menutup kemungkinan bahwa tubuhmu telah terpapar virus corona atau Covid-19.

Namun, hal tersebut bukan menjadi hasil pasti. Sebab, rapid test sendiri cuma berperan selaku investigasi penyaring, bukan investigasi untuk mendiagnosa infeksi virus corona pada tubuhmu.

Untuk itu, lazimnya petugas kesehatan akan memintamu melaksanakan test Polymerase Chain Reaction (PCR) untuk menentukan dan mendeteksi langsung eksistensi virus corona. Sehingga, proses pendeteksian tidak lagi lewat test antibodi layaknya rapid test.

(Baca Juga: Rumah Sakit Penyedia Tes Swab Virus Corona)

Ketentuan dan Prosedur Pelaksanaan Rapid Test

Jika di pembahasan sebelumnya kamu telah mengenali sekilas perihal rapid test, maka di pembahasan kali ini kamu akan mengenali ketentuan dan prosedur pelaksanaan rapid test.

Sebenarnya, mekanisme dari rapid test ini sungguh gampang. Kamu cuma perlu menganalisa sampel darah yang diambil dari ujung jari.

Setelah itu, sampel darah tersebut kau tempelkan ke alat rapid test sampai menerima jadinya.

Mudahnya prosedur rapid test, menciptakan banyak orang merasa bisa melakukannya sendiri dan berbelanja alat-alatnya secara online.

Namun, jikalau penduduk membeli rapid test berdikari, apakah diperbolehkan untuk melakukannya sendiri?

Menurut Prof Amin Soebandrio, sebagaiDirektur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman (LBME) pada health.detik.com, rapid test sebaiknya tidak dikerjakan sendiri.

Meski rapid test berdikari tampaksangat gampang, tetapi akan lebih baik bila dilaksanakan oleh petugas kesehatan.

Pasalnya, ketika melaksanakan rapid test, petugas kesehatan nantinya akan mencatat beberapa data pribadimu, seperti tempat tinggal, usia, gejala sampai hasil dari rapid test itu sendiri.

Apabila hasil dari rapid test pertama negatif, maka nanti kamu akan diminta untuk melakukan rapid test kembali beberapa hari kemudian untuk menentukan.

Namun bila balasannya kasatmata, umumnya kau akan dirujuk untuk melakukan test PCR, seperti yang sudah disinggung pada pembahasan sebelumnya.

Oleh alasannya itu, alangkah lebih baik jika kamu tidak melaksanakan rapid test mandiri, walaupun tidak ada larangan untuk melakukannya.

Sebab, pendeteksian antibodi lewat rapid test bukan lah cara yang sempurna untuk mendiagnosa, apakah kamu bersih dari paparan virus corona atau tidak.

Legalitas Alat Rapid Test yang Dijual Online

Jika berbicara perihal legalitas kit atau alat rapid test mampu berdiri diatas kaki sendiri yang dijual secara online, sebetulnya masih banyak yang belum teruji legalitasnya.

Hal itu dikarenakan, ada 10 merek kit rapid test yang tersedia dan tidak seluruhnya diterima di Indonesia.

Salah satu faktornya yakni mutu dari alat rapid test itu sendiri yang belum teruji. Umumnya, alat-alat rapid test tersebut hanya dibentuk untuk keuntungan semata, tanpa mengamati mutu dan unsur-bagian kesehatan lainnya.

Melansir dari cnbcindonesia.com, Achmad Yurianto selaku juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19 juga mengatakan bahwa rapid test yang dijual di toko-toko online adalah ilegal.

Dengan begitu, masyarakat yang berencana untuk berbelanja alat rapid test mandiridi toko online diperlukan lebih waspada, dengan cara mengetahui perbedaan alat rapid test yang orisinil dan artifisial sebelum berbelanja.

(Baca Juga: Alat-alat Pendeteksi Corona)

Meskipun jikalau dilihat sekilas, akan sungguh susah membedakan alat rapid test yang asli dan artifisial. Tetapi, ada beberapa bagian yang bahu-membahu menjadi tanda asli atau palsunya alat rapid test yang dijual.

Untuk alat rapid test asli, biasanya isi dari alat tersebut cukup kompleks, sebab terdiri dari antigen dan antibodi khusus.

Sedangkan pada alat rapid test palsu, isinya hanya berupa kertas kosong dan casing plastik biasa.

Tidak cuma itu, keaslian alat rapid test juga mampu dilihat apabila telah disetujui oleh pemerintah Indonesia dan negara lainnya. Terlebih, alat tersebut sudah memiliki izin impor dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Oleh sebab itu, pembelian alat rapid test secara online maupun melaksanakan rapid test mampu berdiri diatas kaki sendiri tidak dianjurkan. Karena, tidak ada satu orang pun yang mampu menjamin keasliannya.

Sebaiknya, kalau memang ingin melakukan rapid test mampu berdiri diatas kaki sendiri, kamu bisa pribadi saja datang ke puskesmas atau ke rumah sakit pemerintah maupun swasta.

Kriteria Orang yang Melakukan Rapid Test

Meski rapid test boleh dikerjakan oleh siapa saja, tetapi fasilitas kesehatan mirip rumah sakit dan puskesmas akan mengutamakan orang-orang dengan risiko terpapar Covid-19 lebih besar.

Orang-orang dengan risiko terpapar Covid-19 tersebut pasti memiliki beberapa standar, yang di antaranya ialah:

  • Orang yang pernah melakukan kontak pribadi dengan pasien dalam pengawasan (PDP)
  • Orang yang pernah melaksanakan kontak eksklusif dengan pasien suspect corona atau Covid-19
  • Orang dalam pengawasan (ODP), yaitu orang yang memiliki gejala demam > 38°C dan mengalami gangguan pernapasan, seperti sesak napas, batuk, pilek atau orang dengan riwayat perjalanan atau tinggal di mancanegara
  • Orang yang mempunyai risiko penularan tertinggi, mirip tenaga medis yang menangani pasien Covid-19
  • Orang yang bekerja di akomodasi kesehatan (puskesmas dan rumah sakit pemerintah atau swasta)
  • Orang dengan profesi yang mempunyai tingkat interaksi sosial tinggi, mirip pejabat publik, TNI, polisi, petugas bank, petugas bandara dan lain sebagainya.

Untuk orang-orang dengan tolok ukur di atas, biasanya akan dibebaskan dari ongkos rapid test di beberapa fasilitas kesehatan.

Tetapi, jika kau secara eksklusif ingin melakukannya, maka kamu harus membayar biaya berkisar Rp600 ribu. Cukup mahal bukan?

Maka dari itu, semoga biaya tersebut terasa lebih ringan, kamu mampu membayarnya memakai kartu kredit. Sebab, kamu tidak perlu memiliki duit tunai untuk mampu membayar ongkos rapid test tersebut.

Tetapi, kalau kamu belum memiliki kartu kredit, jangan cemas. Karena, sekarang kau mampu mengajukannya dengan gampang dan cepat melalui CekAja.com.

Terlebih, sebagai perusahaan financial technology, CekAja.com sudah terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Makara, tunggu terlebih? Yuk, ajukan kini!