0 produk di keranjang belanja Anda
No products in the cart.

Ketahui 7 Jenis Modus Kejahatan Kartu Kredit, Supaya Bisa Menghindarinya!

Pada periode yang serba simpel ini kartu kredit sudah jadi pilihan paling terkenal di golongan masyarakat menengah. Kartu kredit bukan hanya digunakan sebagai alat ganti transaksi non-tunai melainkan juga berfungsi selaku dana darurat yang mampu menyelamatkan penggunanya ketika memerlukan dana dalam waktu cepat.

Ketahui 7 Jenis Modus Kejahatan Kartu Kredit, Agar Bisa Menghindarinya!

Tidak mirip dahulu yang merepotkan dimiliki, kartu kredit kini justru lebih gampang dimiliki bahkan untuk mereka dengan kelompok pemasukan rata-rata. Kemudahan pengajuan dan syarat sederhana menjadi pesona pengguna baru yang menentukan kartu kredit menjadi bagian dari keseharian mereka.

Dengan kartu kredit, kita mampu peroleh keuntungan berlipat ganda mulai dari potongan harga belanja, gratis pembelian produk bahkan gratis tiket pesawat. Semakin sering transaksi, bertambah banyak manfaat yang mampu didapat. Namun ditengah kemudahan yang ditawarkan, kartu kredit sesungguhnya masih rentan menjadi objek kejahatan.

(Baca juga: Tips Belanja Online Aman dengan Kartu Kredit BRI)

Hingga ketika ini pun perbankan Indonesia enggan bertanggung jawab, kalau terjadi kejahatan dengan target pengguna kartu kredit. Karena tidak ada yang menunjukkan jaminan soal kejahatan kartu kredit maka kita sebagai pengguna yang mesti lebih berhati-hati, mencari tahu bentuk kejahatan kartu kredit dan bagaimana polanya semoga bisa menghindarinya.

7 Jenis Modus Kejahatan Kartu Kredit

Di Indonesia setidaknya ada 7 jenis atau modus kejahatan yang menimbulkan kartu kredit sebagai targetnya, berikut penjelasannya:

1. Phishing

Phising ialah modus kejahatan kartu kredit yang mengincar data kartu kredit. Modusnya biasanya dilakukan dengan mengirim surat elektro (email) ke calon korban dengan mengaku dari institusi tertentu atau dari pihak perbankan yang mengeluarkan kartu kredit. Korban akan diminta untuk login ke alamat website palsu.

Pada proses login korban diharuskan mengisi sejumlah data langsung terkait kartu kredit. Nah data-data inilah yang kesudahannya dijadikan modal untuk membobol isi kartu kredit korban.

2. Carding

Modus kejahatan kartu kredit yang lain yaitu carding, yaitu ketika pelaku bertransaksi memakai kartu kredit korban. Hal ini bisa terjadi karena pelaku mengetahui nomor kartu kredit korbannya. Biasanya, kejahatan dengan modus carding ini dikerjakan dengan tata cara online, adalah melalui situs e-commerce.

Seperti kita tahu dikala proses transaksi belanja di e-commerce, konsumen cuma perlu memasukkan nomor digit terakhir kartu kredit. Nah ini menjadi celah bagi para pelaku kartu kredit yang melakukan pembobolan tanpa memerlukan kartu fisiknya. Mereka hanya memerlukan nomor dan periode berlaku kartu kredit.

3. Hacking

Hacking ini bergotong-royong masih menjadi bagian dari carding yaitu kejahatan yang mengincar data dan nomor berlaku kartu kredit korban. Hacking cuma bisa dikerjakan oleh orang-orang yang berpengalaman dengan membobol situs online dan mencuri data dari nomor kartu kredit pelanggan mereka ketika sedang bertransaksi.

Berhati-hatilah dikala bertransaksi di situs belanja online dengan menggunakan jaringan wifi. Sebab para hacker memiliki software sendiri yang mampu mencuri data kartu kredit melalui jaringan internet di area publik. Bahkan transaksi menggunakan mobile banking saja bisa mereka retas jikalau Anda memakai jaringan internet publik.

4. Skimming

Untuk modus kejahatan kartu kredit yang satu ini, pelaku memerlukan card skimmer. Yakni sebuah alat yang mampu merekam data kartu kredit . Ukuran card skimmer sungguh kecil sehingga gampang disembunyikan dimanapun. Biasanya pelaku akan menyembunyikannya di mesin electronic data capture (EDC).

Setelah terpasang di EDC, card skimmer akan merekam setiap data kartu kredit. Data ini mampu mereka pakai untuk belanja di aneka macam situs belanja online.

5. Ekstrapolasi

Sering didapatkan kartu kredit utama dengan nama pemilik ganda, salah satunya pasti imitasi. Pemalsuan kartu kredit ini lah yang dinamai dengan istilah ekstrapolasi. Yakni tindak kejahatan yang memproduksi nomor-nomor kartu kredit orisinil tapi artifisial (aspal).

Hanya orang terlatih yang mampu melakukan kejahatan ini. Sebab pelakunya mesti bisa membuat algoritma pengerjaan kartu kredit mirip yang dilakukan oleh perbankan. Kartu kredit palsu ini mampu dicetak dan dipakai untuk transaksi belanja.

6. Pencurian Kartu Kredit

Ini yakni modus kejahatan paling sederhana, pelaku pencurian kartu kredit dalam bentuk fisik secara pribadi dari pemiliknya. Anda mesti waspada dikala mengeluarkan kartu kredit di tempat perbelanjaan alasannya peluangpencurian terbilang tinggi.

7. Penipuan Via Telepon

Hati-hati jika ada yang menelepon dan mengaku selaku pihak bank. Kemungkinan ini adalah salah satu modus kejahatan kartu kredit. Biasanya mereka akan meminta sejumlah data nasabah dengan alasan untuk keperluan dokumentasi. Nyatanya, data pribadi dilarang diberitahukan kepada siapapun tak terkecuali customer service.

Selain itu, penelepon juga lazimnya menawarkan promo tertentu dengan pembayaran memakai kartu kredit. Nah, ketika transaksi dilakukan pelaku akan secepatnya melacak kartu kredit Anda dan melaksanakan pembobolan dan pencurian data.

itulah 7 modus kejahatan kartu kredit yang mesti kita waspadai. Sebagai pengguna kartu kredit kita wajib waspada jikalau tak ingin menjadi korban. Jangan sengaja menempatkan diri menjadi sasaran kejahatan dengan menyingkir dari hal-hal yang memancing pelaku kejahatan kartu kredit.

Sering Dilupakan, ini 5 Sebab Kartu Kredit Praktis di Bobol

Pencurian data kartu kredit dengan teknik skimming semakin marak terjadi. Korbannya mampu merugi dari puluhan sampai ratusan juta rupiah. Pemilik kartu kredit harus lebih waspada karena modus kejahatan kartu kredit ini dikerjakan secara bersih sehingga cukup sulit mendeteksi dan menangkap pelakunya.

Sayangnya, sebagian besar pemilik kartu kredit masih meremehkan hal ini dengan melalaikan hal-hal kecil yang menunjukkan celah bagi pelaku kejahatan. Berikut yakni beberapa diantaranya:

  • Sering Transaksi Online dengan Jaringan Publik

Tak mampu disangkal jaringan wifi yang disediakan cafe atau berbagai kedai makanan kontemporer sering menjadi daya tarik bagi kita untuk berlama-usang disana. Mengakses segala macam dengan jaringan publik milik cafe. Sementara ada puluhan pengguna lain yang juga memakai jaringan yang serupa.

Sampai kita pun lupa melaksanakan transaksi pembayaran kartu kredit, ketika jaringan wifi masih menyala. Sementara jaringan yang sangat besar ini bisa saja diretas oleh seseorang yang telah mengincar kita. Saat transaksi belanja dilaksanakan secara online bukan mustahil data-data kita dicuri.

Karena itu upayakan untuk tidak melaksanakan transaksi pembayaran apapun ketika memakai jaringan publik atau wifi ditempat biasa .

  • Sering Lupa untuk Log Out dari Transaksi

Saat melaksanakan belanja online di suatu e-commerce, biasanya halaman pembayaran atau transaksi akan ada dihalaman khusus. Nah, bagi pengguna kartu kredit halaman ini cuma berisi bimbingan untuk memasukkan digit terakhir dari nomor kartu kredit, dengan begitu transaksi pembayaran berhasil di proses.

Namun kebanyakan pengguna kartu kredit sering lupa untuk logout dari halaman pembayaran dan langsung berpindah ke aplikasi lain. Hal ini menunjukkan para hacker waktu suplemen untuk melakukan peretasan dan mencuri data-data kartu kredit bahkan rekening tabungan.

  • Jarang Memeriksa lembar Tagihan

Lembar tagihan kartu kredit umumnya dikirimkan secara terencana setiap bulan lewat email atau diantarkan secara eksklusif ke tempat tinggal pemilik kartu kredit. Sayangnya, banyak yang menyepelekan lembar tagihan dengan tidak memeriksanya dengan seksama.

Padahal lembar tagihan ini berisi isu tentang transaksi belanja maupun pertolongan dan tarik tunai yang kita kerjakan selama satu bulan. Jika sudah biasa mempelajari lembar tagihan, maka kita akan lebih mudah mengetahui dan mendapatkan bila ada transaksi yang asing.

Jangan sampai alasannya adalah rasa malas, limit kartu kredit hilang begitu saja digunakan orang lain. Periksa lembar tagihan setiap satu bulan sekali dan bandingkan dengan catatan pengeluaran sendiri. Jika ada yang tidak beres eksklusif hubungi pihak bank untuk dilaksanakan verifikasi

  • Tidak Menyimpan Bon Pembayaran

Memang rata-rata orang akan mencampakkan bon pembayaran saat transaksi telah dilaksanakan. Padahal para ahli keuangan senantiasa menyarankan untuk menyimpan setiap bukti pembayaran. Fungsinya, kalau suatu dikala kartu kredit Anda dibobol, Anda mempunyai bukti penggunaan kartu kredit dan mampu menjadi barang bukti di kantor polisi.

  • Mempercayakan Kartu Kredit Kepada Orang Lain

Hal ini kerap terjadi dikala kita memakan makanan di restoran. Pemilik kartu kredit terbiasa menyerahkan begitu saja kartu kredit kepada pihak pramusaji kedai makanan untuk melakukan transaksi. Padahal perjalanan dari meja makan ke kasir juga tidak sebentar, bukan tidak mungkin tindak kejahatan terjadi pada rentang tersebut.

Apalagi Anda menyerahkan dengan bebas kepada pelayan. Bisa saja, dalam waktu pembayaran tersebut para hacker menyadap data-data Anda. Makara, jangan gampang menyerahkan kartu kredit Anda kepada orang lain termasuk saudara. Saat melaksanakan pembayaran lebih baik Anda datang eksklusif ke kasir sehingga semua gerak gerik kasir ada dalam pengawasan mata.

Target Korban Kejahatan Kartu Kredit

Para pelaku pencurian data kartu kredit, tentunya memiliki target sendiri yang mereka tentukan selaku korban. Mereka ialah yang masuk patokan atau “patokan” yang mereka inginkan. Setidaknya, inilah tiga yang sering jadi korban kejahatan kartu kredit:

  • Di Rentang Usia 18-24 tahun

Rentang usia ini dianggap menjadi target empuk, sebab secara umum dikuasai gres memakai kartu kredit sehingga lebih lalai dalam menggunakannya. Selain itu lazimnya rentang usia ini juga sering melaksanakan transaksi kartu kredit secara online sehingga memudahkan peretas mencuri data

  • Pemilik dengan Limit Tinggi

Setiap perbankan bakal mencetak kartu kredit dengan warna berlainan, sesuai dengan tingkatan limit yang diseleksi. Sehingga cukup gampang bagi kita menganggap berapa besar limit yang dimiliki seseorang.

Limit tinggi artinya pemasukan bulanannya juga tinggi, umumnya orang yang mempunyai limit minimal Rp 50 juta/bulan melakukan pekerjaan di sektor formal sekelas manager. Inilah sasaran empuk para pelaku kejahatan kartu kredit.

Sebab lazimnya mereka tidak mengamati transaksi yang telah dilakukan dan jarang mengusut lembar tagihan sehingga kejahatan apapun yang terjadi mereka tidak menyadarinya.

  • Kartu Kredit dengan PIN Lemah

Mulai tahun 2020 seluruh kartu kredit sudah dilengkapi dengan PIN. Namun sebagian besar masih menciptakan kombinasi pin yang mudah ditebak seperti tanggal lahir atau tanggal-tanggal penting lain. Karena itu dikala membuat kartu kredit buatlah pin dengan variasi yang merepotkan dikenang, jangan pilih tanggal-tanggal penting dalam hidup Anda.

Itulah beberapa target atau orang yang memiliki potensi menjadi korban kejahatan kartu kredit. Hati-hatilah dalam setiap penggunaan kartu kredit baik saat transaksi online maupun offline karena keduanya sama-sama berpeluang menjadi sasaran kejahatan para hacker.

Selain menghindari kejahatan, memilih kartu kredit yang pas juga mesti diperhatikan, pilih kawasan yang kondusif, terpercaya dan tenteram. Seperti Cekaja.com yang menawarkan akomodasi bagi penggunanya, selain itu Cekaja sudah terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), tunggu apa lagi!.