0 produk di keranjang belanja Anda
No products in the cart.

Hak Faedah Asuransi Jiwa Saat Perceraian, Penting Penjelasannya!

Asuransi jiwa ialah hal yang penting untuk melindungi kamu dan keluarga. Sayangnya, kondisi mirip perceraian bisa membuat pembagian hak faedah asuransi jiwa membutuhkan pembiasaan. Oleh balasannya, pahami klarifikasi perubahan hak manfaat asuransi jiwa saat perceraian berikut ini.

Hak Manfaat Asuransi Jiwa Saat Perceraian, Ini Penjelasannya!

Dampak Perceraian bagi Kondisi Finansial

Perceraian tentu bukan hal yang dibayangkan akan terjadi oleh pasangan suami-istri. Berbagai dampak bisa muncul balasan terjadinya perceraian, tergolong soal pergantian kondisi finansial.

Sebab pembagian harta gono gini diadaptasi menurut kebutuhan pihak mantan suami dan mantan istri, aset yang dimiliki, aspek hak ajar anak, dan hal-hal lain yang kemudian ditentukan oleh hakim di pengadilan agama.

Namun, perlu kamu ketahui bahwa berdasarkan Undang-undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974, ada harta yang tidak termasuk dalam kelompok harta gono-gini.

Yaitu (1) harta bawaan yang telah dimiliki masing-masing pasangan (suami atau istri) sebelum menikah, dan (2) harta perolehan atau harta milik suami maupun istri sesudah menikah yang didapatkan dari hibah, wasiat, atau warisan.

Sedangkan untuk aset yang dimiliki bersama setelah terjadi akad nikah mampu dibagi sesuai dengan pengajuan kedua belah pihak (suami-istri yang akan bercerai), dan disetujui oleh hakim pengadilan.

Aset-aset itu contohnya seperti rumah, kendaraan, aset properti dan investasi lain, tergolong asuransi jiwa.

Asuransi jiwa sendiri biasanya dimiliki oleh mereka yang menjadi tulang punggung keluarga. Pasangan pun diseleksi sebagai penerima manfaat yang berhak atas asuransi jiwa tersebut jiwa pemegang polis meninggal dunia. Selain pasangan, anak juga lazimnya menjadi peserta nomor dua pada sebagian manfaat asuransi jiwa.

Akan namun, bila pemegang polis yang mengalami perceraian mengharapkan adanya perubahan hak mendapatkan faedah asuransi jiwa saat perceraian, maka dia bisa melakukan pengajuan perubahan tersebut ke pihak penyuplaiasuransi.

Berikut kami terangkan hal-hal yang mampu diubah dari hak manfaat asuransi jiwa dikala perceraian.

(Baca Juga: 5 Asuransi Pendidikan Terbaik)

Perubahan Hak Manfaat Asuransi Jiwa Saat Perceraian

Penyebab dan kondisi perceraian bagi setiap pasangan tidak bisa disamakan satu dan yang lainnya. Keputusan pembagian harta gono gini tergolong asuransi berlawanan-beda, tergantung dengan kesepakatan kedua belah pihak.

Sebenarnya, penerima hak manfaat asuransi jiwa (nilai pertanggungan) bisa saja diubah asalkan pihak pemegang polis mengajukan pergantian ke perusahaan penyuplaiasuransi.

Misalnya, pihak suami yaitu pemegang polis asuransi jiwa yang hendak memperlihatkan manfaat sebesar 50 persen bagi istri, dan 50 persen untuk anak. Perubahan pembagian hak faedah asuransi jiwa ini mampu saja terjadi bila diajukan pergeseran sebelum perceraian resmi diputuskan pengadilan agama.

Namun, jikalau kau tidak melakukan pengajuan perubahan, maka mantan istri nantinya akan tetap mendapatkan manfaat asuransi jiwa senilai 50 persen tersebut.

Perubahan asuransi jiwa ketika perceraian lainnya juga mungkin saja terjadi, tergantung dengan keadaan perceraian dan keinginan pemegang polis. Berikut dua acuan kondisinya.

1. Perceraian Tanpa Anak, Bisa Bagi Rata atau Cabut Manfaat

Jika kamu melakukan perceraian dalam keadaan tidak memiliki anak, tetapi penghasilan suami dan istri digabung (dalam artian membayar premi bantu-membantu), maka kau bisa membagi rata nilai manfaat asuransi jiwa untuk istri yang diceraikan dan keluarga pihak suami (contohnya orang tuamu).

Sedangkan bila terjadi perceraian dalam keadaan tidak memiliki anak, tetapi kamu yaitu pembayar premi tunggal yang tidak memadukan penghasilan, maka istri yang sebelumnya menjadi akseptor manfaat asuransi jiwa mampu diubah ke pihak lain sesuai dengan kehendakmu.

2. Perceraian dan Pegang Hak Asuh, Dapat Manfaat Lebih Banyak

Perubahan pembagian hak menerima manfaat asuransi jiwa saat perceraian menjadi lebih besar juga bisa didapat melalui tuntutan salah satu pihak (suami atau istri).

Hal ini memungkinkan dengan catatan penghasilan mereka digabung sehingga sama-sama membayar premi, atau kau adalah pemegang polis asuransi jiwa yang membayar premi sendirian.

Sebab anak juga mempunyai kebutuhannya sendiri hingga usia dewasa. Mulai dari kebutuhan makanan harian, pendidikan, kesehatan, dan lain sebagainya. Maka dari itu, pemegang hak latih berhak mengajukan penerimaan premi asuransi jiwa yang lebih besar dari yang disepakati sebelumnya.

Misalnya, sebelum bercerai pembagian hak manfaat asuransi jiwa dibagi dengan nilai 50 persen untuk istri, dan 50 persen untuk anak. Maka saat diresmikannya perceraian maka pembagiannya yakni 50 persen untuk anak, 25 persen untuk istri, dan 25 persen untuk keluarga orang tua dari pihak suami.

Jika hak ajar jatuh kepada sang ibu, bermakna istri akan mendapat manfaat asuransi jiwa senilai 75 persen.

(Baca Juga: Rekomendasi Asuransi Jiwa untuk Single Parent)

Asuransi Penting Untuk Seseorang yang Bercerai

Bagaimanapun juga, perceraian akan mengubah hidup dan keadaan finansial mu. Kamu dituntut untuk lebih berdikari secara finansial, dan peduli dengan keadaan diri sendiri. Memiliki asuransi jiwa dan asuransi kesehatan sungguh penting untuk seseorang yang mengalami perceraian. Apalagi jikalau memiliki tanggungan anak atau anggota keluarga lainnya.

Jika mantan pasanganmu juga tak bisa dipercaya dalam persoalan finansial sesudah bercerai, dan kau memiliki tanggungan anak, maka kau sungguh diusulkan membuat asuransi dengan nilai pertanggungan yang setara untuk melindungi anak terakhir hingga meraih 18 tahun atau 21 tahun.

Asuransi kesehatan kini bisa kamu peroleh secara gampang dengan pengajuan online di CekAja.com. Pilih asuransi dengan premi terjangkau nilai pertanggungan yang worth it untuk melindungi dirimu dan keluarga. Yuk, cek sekarang juga!