0 produk di keranjang belanja Anda
No products in the cart.

Efek Bisnis Ketika Corona Mewabah, Nasabah KTA Ctbc Bisa Dapat Akomodasi?

Adanya wabah virus Corona yang menyerang hampir di seluruh negara di dunia sungguh berpengaruh terhadap semua faktor kehidupan masyarakat. Sektor ekonomi ialah yang paling terdampak dari mewabahnya virus Corona. Jika di Indonesia bisnis masker dan hand sanitizer melambung tinggi dikala ini, maka sektor lain di sebagian besar dunia mengalami acara ekonomi yang amburadul selama wabah virus Corona berlangsung. Banyak kebijakan pemerintah yang mewajibkan untuk masyarakat tetap tinggal di rumah saja, sementara aktivitas perekonomian nyaris semuanya berada di luar rumah. Yang paling terasa melambatnya perekonomian yakni China. Bahkan itu juga mempengaruhi kegiatan ekonomi secara global mengingat China menguasai pasar dunia kini ini.

dampak bisnis saat Corona

Perekonomian China juga besar lengan berkuasa terhadap acara ekonomi di Indonesia. Dampak bisnis saat Corona mewabah semakin jelek. Meski belum begitu terlihat kini namun itu mampu saja terjadi. Lalu imbas bisnis dikala Corona mewabah yang kemungkinan paling buruk? Tentu saja krisis ekonomi. Tapi sebelum berlanjut ke krisis ekonomi berikut kita akan berikan info imbas apa saja yang terjadi di Indonesia berkaitan dengan mewabahnya virus Corona ini.

Menurunnya perdagangan

Karena China yang juga menutup hampir sebagian kotanya, maka perekonomian juga berpengaruh. China selaku penguasa pasar dikala ini juga memberikan imbas turunnya perdagangan khususnya di Indonesia. Nilai ekspor bahkan turun drastis sebesar 12,07%. Ekspor migas dan nonmigas menjadi sektor yang paling banyak mengalami penurunan.

Impor dari negeri Tirai Bambu itu juga menurun sebesar 2,71% dengan penurunan paling tajam dari sektor komoditas buah-buahan. Tidak heran beberapa buah menjadi sangatlah mahal saat ini di Indonesia seperti anggur dan apel. China ialah negara pengimpor minyak mentah paling besar. Salah satunya yakni dari Indonesia. Jika impor saja turun tentu saja pemasukan negara juga akan berkurang.

Jadi, mulailah memakan buah buahan lokal asli Indonesia, alasannya adalah di negeri kita ini juga banyak buah yang enak dan berfaedah baik. Selain itu buah setempat juga sangat cocok dimakan oleh kita, sebab menyesuaikan dengan demam isu yang sedang terjadi. Dengan begitu, kita tak perlu cemas dengan harga apel dan anggur yang melambung tinggi, ganti saja dengan duku, pepaya, sirsak, atau durian.

Pariwisata Loyo

Di China setelah ada wabah virus Corona ini pemerintahnya melarang warganya untuk bepergian keluar negeri. Bahkan untuk masuk ke negara itu saja sulit. Jadi hal yang paling mencemaskan ialah sektor pariwisata. Ketika Indonesia juga menerapkan hukum larangan masuk bagi orang dari beberapa negara yang terserang maka sektor pariwisatanya akan kian loyo. Tidak adanya kunjungan wisatawan ke kawasan-tempat pariwisata menjadikan tak ada pemasukan. Di Indonesia kunjungan pelancong asal China ialah yang paling banyak di urutan ketiga setelah Malaysia dan Singapura. Jika tak ada kunjungan dari wisatawan pelancong asing maka banyak pebisnis atau pemilik bisnis yang akan merugi.

Bahkan dikala ini daerah kawasan wisata pun ditutup untuk menghalangi penularan dan penyebaran virus Corona yang tak pandang bulu menjangkit insan. Meski di awal awal peraturan work from home, sekolah diliburkan, banyak kawasan rekreasi yang masih buka dan ramai dikunjungi, sebab mungkin penduduk Indonesia menganggapnya selaku piknik. Dan ini pastinya sangat ironis sekali. Namun sesudah ditegaskan lagi, maka banyak kawasan rekreasi yang tutup sementara. Selain itu penduduk pun semakin melihat bahwa virus Corona bukanlah virus main main, melainkan butuh kewaspadaan kita sendiri semoga tak terserang. Terlebih saat satu dua tiga korban berjatuhan karena Corona.

Sektor selain pariwisata juga loyo

Nah, dalam sektor pariwisata ternyata tak Cuma soal wahana wisatanya saja loh, namun juga mencakup banyak usaha seperti masakan, hotel atau penginapan, tempat hiburan dan lainnya yang ada di sekitar tempat rekreasi yang mendukung pariwisata tersebut. Tidak adanya pendapatan untuk sektor ini tentu menjadi salah satu efek bisnis saat Corona mewabah. Pemasukan dalam sektor pariwisata ialah salah satu cadangan devisa bagi negara. Jika cadangan devisa negara ini terganggu maka stabilitas perekonomian Indonesia juga mungkin akan terusik. Terlebih beberapa tahun akhir-akhir ini, wisata menjadi salah satu demam isu dan lifestyle bagi penduduk .

Dalam aktivitas ekonomi pasti akrab kaitannya dengan dunia perbankan. Kemungkinan meningkatnya kredit macet akibat wabah virus Corona menjadi hal yang mesti diamati. Jika tak ada penanganan yang baik mengenai wabah virus Corona ini maka dikhawatirkan resiko kredit macet akan melambung tinggi. Salah satu bank yang ikut merasakan imbas bisnis ketika Corona mewabah ialah Bank CTBC. Bank yang mengeluarkan KTA Dana Cinta ini memang menjadi salah satu favorit penduduk . KTA Dana Cinta ini mampu dipakai untuk kebutuhan apa saja. Bisa untuk bisnis, memperbaiki rumah, bahkan piknik.

KTA Dana Cinta

Bagi para pebisnis KTA Dana Cinta memiliki banyak keuntungan. Ini yakni sumbangan yang cocok untuk berbisnis loh. Plafonnya saja bisa sampai Rp 200 juta rupiah. Seperti namanya yakni KTA Dana Cinta, ini ialah kredit yang tidak mengharuskan adanya jaminan untuk mengajukannya. Pilihan waktu untuk melaksanakan pelunasan pun panjang sampai 60 bulan. Dengan suku bunga yang kompetitif mulai dari 1,29% menjadi daya tarik bagi penduduk . Apalagi bunga ini adalah bunga flat yang tidak akan berganti hingga lunas.

Resiko bagi para nasabah dikala virus Corona mewabah ialah ketidakmampuan untuk membayar cicilannya. Kebijakan pemerintah yang menutup sekolah sekolah, perkantoran dan tempat wisata tentu saja mempunyai dampak bagi para nasabah bank CTBC. Apalagi yang berprofesi sebagai pengusaha akan terasa sekali dampaknya. Anjuran pemerintah untuk di rumah saja dan melakukan pekerjaan dari rumah sedikit banyak membuat lesu perekonomian Indonesia. Beruntung jika bisnis dijalankan secara online dan yang menjadi produk pun yaitu produk digital, maka perjuangan tetap bisa jalan seperti biasa. Tapi sangat disayangkan kalau bisnisnya yakni bisnis offline, dimana transaksi harus dilaksanakan tatap tampang dan langsung.

Dampak jelek bagi bisnis membuat para pengusaha yang memiliki KTA Dana Cinta dari Bank CTBC mengalami kewalahan untuk membayarkan cicilannya. Sebenarnya bukan hanya dari Bank CTBC saja yang mengeluhkan risiko peningkatan kredit macet tapi semua bank dalam dunia perbankan. Maka dari itu OJK menciptakan kebijakan stimulus untuk pola bagaimana sikap menghadapi pandemi virus corona bagi para usahawan.

Sesuai dengan POJK No.11/POJK.03/2020 bahwa stimulus diberikan bagi debitur yang mengalami imbas buruk dari wabah virus Corona ini seperti UMKM dan non-UMKM. Dalam aturannya evaluasi bagi kualitas kredit atau penyediaan dana didasarkan pada pembayaran pokok yang tepat dan/ bunga kredit untuk Rp 10 miliar rupiah. Yang kedua yakni adanya restrukturisasi dengan mengembangkan mutu kredit atau pendanaan menjadi tanpa kendala sesudah direstrukturisasi.

(Baca Juga: Daftar Pejabat yang Terinfeksi Virus Corona di Dunia)

Anjuran ini juga perlu mengamati prinsip hati-hati utamanya ketika proses penagihan. Bagi para pelaku usaha yang mempunyai KTA Dana Cinta pasti berharap bahwa bank akan berbaik hati untuk menawarkan kelonggaran atau fasilitas untuk membayarkan cicilan. Kebijakan pemerintah untuk melakukan pekerjaan di rumah memang disayangkan sangat mengusik pendapatan bagi para pebisnis UMKM dan non-UMKM. Bahkan untuk para pedagang yang sehari-harinya keliling pun merasa sangat sedih dan merugi sebab mau tidak mau dia memilih libur daripada terancam tularan virus, atau pilihan yang lain ya membuka sistem delivery order agar dapur tetap ngebul. Setidaknya ini yakni alternatif yang bisa dilaksanakan, dan menuntut pelaku usaha untuk lebih kreatif melaksanakan bisnis biar tidak melarat karena virus Corona.

OJK dalam memperlihatkan kebijakan stimulus juga dibutuhkan menunjukkan pemahaman terhadap bank agar mampu menundapembayaran kredit bagi debitur. Salah satunya pasti debitur Bank CTBC. Dengan adanya penangguhan pembayaran kredit bagi debitur maka ini akan mempertahankan daya beli penduduk . Maka dari itu proses penagihan oleh petugas juga ditangguhkan. Penerapan untuk stimulus yang diberikan OJK ini diubahsuaikan dengan kesanggupan dan kebijakan masing-masing bank.

Ada banyak tantangan bagi para pebisnis debitur KTA Dana Cinta dari Bank CTBC mulai dari perusahaan kecil, menengah sampai perusahaan besar. Pekerjaan yang biasa dijalankan dengan suatu konferensi menjadi semakin sulit dan kita selaku masyarakat diharuskan menjadi lebih “digital” sekarang ini. Berikut tantangan ketika mesti berbisnis di situasi sulit.

Susah Ekspansi

Bagi para pelaku usaha atau bisnis, untuk mencapai target di dikala mewabahnya virus Corona ini adalah hal yang merepotkan. Selain itu mereka juga enggan melakukan perluasan bisnis. Lesunya perekonomian dan sulitnya untuk menjajaki produk di dalam maupun luar negeri ialah pengaruh bisnis dikala Corona mewabah. Ketika wabah mulai reda pelaku bisnis diperkirakan gres akan melaksanakan ekspansi.

Terganggunya keuangan

Adanya penurunan akhir lesunya perekonomian menciptakan pemasukan juga menjadi berkurang. Hal ini tentu sangat mengusik keuangan dari perjuangan itu. Jika kondisi ini terus berlanjut maka bisa-mampu usaha itu melarat dan tutup. Dan tingkat kemiskinan pun akan meningkat jika memang itu yang terjadi.

Nah bagi para pemilik KTA Dana Cinta dari Bank CTBC yang memiliki usaha tentu sungguh cemas dengan keadaan kini. Meskipun mereka sudah diberikan penangguhan untuk membayar cicilannya, mereka tetap harus menerima penghasilan. Tips bagi para pelaku usaha yaitu dengan menyusun taktik bisnis biar tidak terlalu terpengaruh oleh pengaruh bisnis ketika Corona mewabah. Salah satunya adalah dengan tetap menjaga arus kas tetap terjaga dan sehat. Biasanya bisnis dilakukan dengan sebuah pertemuan, maka kini gunakanlah segala sesuatunya dengan lebih “digital”. Seperti memakai email untuk saling menawarkan dokumen atau surat penting. Proses transaksi juga dikerjakan dengan internet banking atau transfer. Dengan tidak perlu berjumpa maka ini juga usaha untuk menekan penyebaran virus Corona. Lagipula, saat ini sebagian pelaku usaha juga sudah sungguh familiar dengan metode online, dan ini mampu menjadi salah satu alternatif biar perjuangan bisa tetap berlangsung.

Nah itu dia dampak bisnis saat Corona mewabah bagi para nasabah Bank CTBC. Pemberian kebijakan untuk menangguhkan pembayaran cicilan tentu sangat menolong nasabah melewati wabah virus Corona yang mengakibatkan lesunya dunia. Semoga pertolongan kebijakan di dunia perbankan ini menjadi salah satu cara menangani wabah virus Corona. Dan biar wabah virus secepatnya selsai.