0 produk di keranjang belanja Anda
No products in the cart.

Definisi Dan Kegunaan Pemotongan Nilai Mata Duit Yang Perlu Dimengerti

Sebagian besar generasi milenial, mungkin tidak mengetahui definisi dan kegunaan pemotongan nilai mata duit secara gamblang. Namun, bagi generasi lainnya yang sudah lahir sekitar tahun 1950-1960, rasanya sudah sungguh paham dengan pemotongan nilai mata duit, atau yang kadang-kadang disebut sanering. Hal itu dikarenakan, pemerintah pernah menerapkan kebijakan sanering sebanyak tiga kali sepanjang masa tahun tersebut.

Definisi dan Kegunaan Pemotongan Nilai Mata Uang yang Perlu Diketahui

Sepanjang diterapkannya kebijakan pemotongan nilai mata uang, berbagai efek yang terjadi, baik dampak baik maupun efek jelek.

Bahkan, dampak jelek yang terjadi pun memperlihatkan imbas jangka panjang, berupa “trauma” yang timbul dalam diri penduduk dikala itu. Lantas, apa bekerjsama definisi dan kegunaan pemotongan nilai mata duit?  

Definisi dan Kegunaan Pemotongan Nilai Mata Uang

Seperti yang sudah disinggung sebelumnya, bahwa jikalau berbicara wacana definisi dan kegunaan pemotongan nilai mata duit, mungkin hanya sebagian kelompok saja yang mengerti dan paham.

Seperti contohnya nenek dan kakekmu yang telah lahir sekitar tahun 1950-1960, andal ekonomi, sejarawan, maupun orang-orang yang mempelajari perihal pemotongan nilai mata duit atau sanering.

Oleh karena itu, untuk mengetahui lebih lengkap perihal definisi dan kegunaan pemotongan nilai mata duit, pada potensi kali ini CekAja.com akan mengulasnya secara lengkap satu persatu khusus untuk kau. Yuk, simak bantu-membantu!

(Baca Juga: Cara Cek Kurs Mata Uang)

Definisi Pemotongan Nilai Mata Uang

Poin pertama yang akan dibahas adalah definisi pemotongan nilai mata uang. Yang mana, pemotongan nilai mata duit atau sanering ini ditujukan untuk mengurangi jumlah uang yang beredar. Kebijakan sanering ini, biasanya diterapkan pemerintah saat inflasi yang terjadi telah terlalu tinggi.

Jika sanering disimulasikan, mungkin gambarannya akan seperti ini. Uang Rp10 ribu yang kamu miliki pada kondisi wajar nominalnya tetap akan sama. Namun, dikala kebijakan sanering dipraktekkan, maka duit Rp10 ribu milikmu nilainya akan diturunkan  menjadi Rp10.

Sementara, harga barang-barang tetap berada pada harga wajar . Di mana, harga sepotong roti saat keadaan wajar maupun sudah dipraktekkan kebijakan sanering harganya tetap sama, ialah Rp10 ribu.

Dengan begitu, untuk bisa membeli sepotong roti ketika kebijakan sanering ditetapkan, kau mesti merogoh kocek yang lebih besar, bahkan berkali-kali lipat. Sehingga, daya beli masyarakat menurun drastis dan secara tidak pribadi membuat para pengusaha mengalami kerugian besar.

Perbedaan Sanering dan Redenominasi

Perbedaan Sanering dan Redenominasi

Dari pembahasan di atas, sekarang kau sudah mengenali definisi pemotongan nilai mata uang. Hanya saja, bagi orang awam definisi sanering tersebut sering kali disamakan dengan redenominasi, yang sebenarnya kedua perumpamaan itu mempunyai arti berbeda.

Redenominasi sendiri merupakan penyederhanaan serpihan atau denominasi mata uang, menjadi pecahan yang lebih minim dengan mengurangi digit angka nol, tanpa mengurangi nilai dari mata duit tersebut.

Singkatnya, redenominasi ialah suatu bentuk kebijakan penyederhanaan angka pada mata duit, bukan nilai mata uangnya. Sedangkan, sanering mempunyai arti pemotongan nilai mata duit. Sehingga, sudah tampaksungguh jelas perbedaan antara sanering dan redenominasi.

Namun, untuk lebih memudahkan kau dalam memahami perbedaan sanering dan redenominasi, yuk simak uraiannya pada tabel di bawah ini.

Tolok UkurSaneringRedenominasi
Dampak kepada harga barangTidak berefekBerdampak
Nilai mata uang kepada barangTurunTetap
TujuanMengurangi jumlah duit yang beredar akibar hiperinflasiMenyederhanakan serpihan uang biar lebih efisien dan tenteram ketika dipakai
Kondisi saat pelaksanaanSaat makro ekonomi tidak sehat dan inflasi sungguh tinggiSaat makro ekonomi stabil, ekonomi berkembang dan inflasi terkendali
Kemungkinan timbulnya kerugianIyaTidak
Masa transisi pelaksanaanMendadak tanpa persiapanBertahap, terukur, memiliki persiapan yang masak

Kegunaan Pemotongan Nilai Mata Uang

Setelah mengetahui definisi pemotongan nilai mata uang beserta perbedaannya dengan redenominasi, maka sekarang saatnya untuk kau mengetahui kegunaan pemotongan nilai mata uang.

Sebenarnya, kegunaan pemotongan nilai mata duit ini sudah disinggung sedikit di pembahasan sebelumnya. Yang mana, manfaatnya yakni untuk menekan laju inflasi yang telah sangat tinggi, dengan cara menghemat jumlah duit yang beredar di masyarakat.

Maka dari itu, penduduk secara tidak eksklusif dipaksa untuk menurunkan kemampuan atau daya beli terhadap sebuah barang, lewat pemotongan nilai mata duit, seperti yang sudah digambarkan pada simulasi di sebelumnya.

Dampak dari Pemotongan Nilai Mata Uang

Sejatinya, pemotongan nilai mata duit memperlihatkan efek tersendiri bagi perekonomian masyarakat, baik itu dampak baik maupun pengaruh jelek.

Untuk imbas baiknya sendiri, pasti dengan adanya pemotongan nilai mata uang atau sanering, mampu menekan laju inflasi dan memperbaiki perekonomian penduduk .

Sedangkan di sisi lain, pemotongan nilai mata duit ini juga menunjukkan dampak jelek yang di antaranya, yakni penduduk mengalami kepanikan berbarengan, para pengusaha mengalami kerugian, terlantarnya pembangunan ekonomi nasional, menurunnya nilai tukar mata duit rupiah kepada mata uang abnormal, menurunnya daya beli penduduk sampai kesulitan ekonomi.

Bagaimana, cukup banyak bukan imbas yang ditimbulkan dari pemotongan nilai mata duit? Meski begitu, hal ini tetap harus dijalankan oleh pemerintah sebagai langkah terakhir untuk mengembalikan kestabilan ekonomi.

Pemotongan Nilai Mata Uang yang Pernah Terjadi di Indonesia

Poin terakhir yang mau diulas pada pembahasan kali ini yaitu pemotongan nilai mata duit yang pernah terjadi di Indonesia. Pasalnya, pemotongan nilai mata uang ini sudah terjadi sebanyak tiga kali, adalah pada 1950, 1959 da 1965.

Pemotongan Nilai Mata Uang Tahun 1950

Pemotongan nilai mata duit yang pertama terjadi pada 19 Maret 1950. Di mana, pada ketika itu Indonesia menerapkan kebijakan sanering, sebab kondisi perekonomian yang semakin terpuruk akhir inflasi tinggi.

Kebijakan sanering yang dipraktekkan ketika itu juga diketahui selaku kebijakan “Gunting Syafrudin”. Hal tersebut dikarenakan, kebijakan ini ditetapkan oleh Syafrudin Prawiranegara, selaku Menteri Keuangan dalam Kabinet Hatta II.

Berdasarkan kebijakan tersebut, uang NICA atau “uang merah” dan uang De Javasche Bank digunting menjadi dua bab. Kemudian, duit bab sebelah kiri mampu digunakan sebagai alat pembayaran sah, dengan nilai mata uang setengah dari nilai aslinya.

Sementara, bagian sebelah kanan uang tidak dapat dipakai untuk bertransaksi. Namun, dapat ditukar dengan obligasi atau Surat Utang Negara (SUN), dengan nilai setengah dari nilai aslinya.

Lalu, obligasi tersebut gres akan dibayarkan 30 tahun kemudian dengan bunga setiap tahunnya sebesar tiga persen.

Pemotongan Nilai Mata Uang Tahun 1959

Kebijakan pemotongan nilai mata uang selanjutnya terjadi pada 25 Agustus 1959. Menteri Keuangan sekaligus Menteri Pertama Djuanda pada periode pemerintahan Presiden Soekarno, menurunkan nilai mata uang Rp10 ribu bergambar gajah menjadi Rp100, dan mata duit Rp5 ribu bergambar harimau menjadi Rp50.

Pemotongan Nilai Mata Uang Tahun 1965

Terakhir, kebijakan pemotongan nilai mata uang terjadi pada 13 Desember 1965. Saat itu, pemerintah menurunkan nilai potongan Rp1.000 menjadi Rp1 dalam bentuk duit gres.

(Baca Juga: Definisi Biaya Provisi dan Cara Mencairkan Dana Pinjaman)

Itulah beberapa gosip terkait definisi dan kegunaan pemotongan nilai mata uang, yang perlu kamu pahami. Dari informasi tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa pemotongan nilai mata duit atau sanering, mampu dilaksanakan secara mendadak oleh pemerintah, untuk menekan inflasi yang terjadi.

Apabila kebijakan pemotongan nilai mata duit sudah diterapkan, maka kau harus siap dengan segala risiko kerugian. Oleh karena itu, untuk menangkal kerugian, sungguh diusulkan untuk selalu berhemat dan melaksanakan subtitusi pengeluaran.

Seperti yang telah dikenali, seiring berjalannya waktu seringkali ada saja hal yang menciptakan pengeluaran kita terkikis. Salah satunya yakni pengeluaran untuk dana darurat.

Saat kau memerlukan dana darurat tetapi ragu sebab faktor keselamatan nya, kini kamu tidak perlu khawatir lagi karena kau mampu mengajukan tunjangan dana lewat CekAja.com. Karena telah diawasi dan terdaftar di OJK, semua data langsung kau dijamin kerahasiaan nya. Tidak cuma itu, kamu akan diberikan opsi bantuan dari bank terpercaya di Indonesia dengan bunga yang sesuai keperluan kau. Segera olok-olokan tunjangan mu melalui CekAja.com!