0 produk di keranjang belanja Anda
No products in the cart.

Cegah Corona Meluas, Bank Indonesia Ganti Duit Beredar

Pandemi virus novel corona atau covid-19 telah begitu memprihatinkan. Ratusan negara terus berupaya lepas dari jerat virus yang sudah merenggut lebih dari 21 ribu orang di seluruh dunia tersebut.

Cegah Corona Meluas, Bank Indonesia Ganti Uang Beredar

Di Indonesia, covid-19 sudah menjadikan 58 orang meninggal dunia.

Sebagai salah satu langkah mempersempit penyebaran, Bank Indonesia (BI) sebagai regulator di bidang moneter mengganti duit yang sudah beredar dengan uang gres.

Sebelumnya, pemerintah sudah mengimbau untuk meminimalisir transaksi menggunakan duit tunai.

Hal itu dilaksanakan, mengingat sifat dari virus novel corona yang mampu hidup berjam-jam di benda mati.

Bahkan berdasarkan jurnal terbitan New England Journal, dibilang bahwa virus tersebut dapat bertahan hidup sampai 24 jam di media karton atau kardus.

Hal itu tentu saja menciptakan khawatir banyak orang. Pasalnya duit tunai mempunyai sifat yang serupa dengan karton atau kardus.

Dikhawatirkan, penyebaran virus mampu terjadi lebih masif melalui cara “menunggangi” duit tunai.

Tidak gila kalau belakangan ini ada ajakan untuk mengurangi penggunaan uang tunai demi menyederhanakan ruang gerak virus.

(Baca juga: Kebutuhan Uang Tunai Cepat Berdasarkan Sifatnya)

1. Oktober tahun lalu Rp611 triliun uang kartal beredar

Berdasarkan data BI, hingga November tahun kemudian sebanyak Rp611 triliun duit kartal beredar si masyarakat. Jumlah itu terbagi atas duit kertas dan juga duit logam.

Uang kartal sendiri ialah duit tunai yang beredar dan dipegang oleh masyarakat.

Banyak bermunculannya platform dompet digital mirip Go-Pay, Ovo, Link Aja dan bermacam-macam aplikasi lainnya menciptakan acuan transaksi di penduduk mulai berubah.

Selain uang kartal, ada juga uang giral yang tergolong didalamnya penggunaan cek dan juga bilyet giro, yang dalam acuan transaksinya sering di pindah tangankan antar korporasi.

2. Cetak duit 8 miliar bilyet per tahun

Jika berbicara tentang peredaran uang tunai, tak lengkap rasanya jika tidak mengetahui siapa perusahaan dibalik beredarnya uang fisik tersebut.

Adalah Perusahaan Umum (Perum) Percetakan Uang Republik Indonesia (Peruri) yang mendapatkan peran dari BI untuk memenuhii keperluan cetak duit tunai.

Melansir Detik.com, jumlah uang yang dicetak Peruri per tahunnya mencapai 8 miliar bilyet (lembar).

Salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut diketahui mendapatkan tugas setiap 2 tahun sekali untuk mencetak duit.

Selain mencetak uang untuk keperluan dalam negeri, Peruri juga mencetak duit untuk negara lain.

Ya, status hukumnya selaku BUMN menimbulkan Peruri lebih leluasa untuk mendapatkan order cetak dari negara lain.

Beberapa duit yang pernah dicetak oleh Peruri ialah Nueva Sol, mata duit negara Peru, Ringgit Malaysia, Rupee Nepal dan beberapa mata duit lainnya.

(Baca juga: Syarat Pinjaman Dana Tunai Kartu Kredit, Agar Cepat Disetujui!)

3. Sterilkan uang di ATM

Nah demi mempersulit ruang gerak wabah Covid-19, BI sudah melakukan karantina uang tunai yang beredar di mesin ATM.

Selain itu, BI juga melakukan karantina untuk duit yang disetorkan oleh Lembaga perbankan ke Bank Indonesia.

Karena itu, uang yang beredar di ATM di ganti dengan uang yang gres dan terbebas dari corona.

Hal itu dilakukan sebagai langkah antisipatif untuk meminimalisir laju peredaran virus novel corona.

Bank Indonesia juga terus mendorong transaksi non tunai bagi penduduk . Apalagi ketika ini tengah diimbau untuk melaksanakan pembatasan acara di luar rumah.

Buat kau yang membutuhkan uang secara cepat dan non tunai, kamu bisa mengakses aplikasi JULO.

Dengan begitu kamu juga sudah ikut membantu pemerintah meminimalisir penyebaran virus yang saat ini tengah diperangi bahu-membahu oleh banyak sekali negara lain.