0 produk di keranjang belanja Anda
No products in the cart.

8 Pesan Moral Dan Finansial Dari Film Tilik

Berbagai media besar Indonesia tengah mengulik gosip tentang pesan tabiat dan finansial dari film Tilik. Film ini  menjadi trend di jagad media umum karena sarat akan makna kehidupan.

Film Tilik Jadi Perbincangan Hangat Usai Tuai Kritik dan Apresiasi

Belakangan, film Tilik menjadi materi perbincangan di lingkup sineas Indonesia. Film ini menuai kritik sekaligus apresiasi, sebab pesan sopan santun dan finansial dari film Tilik itu sendiri.

Film pendek garapan sutradara Wahyu Agung Prasetyo, dan ialah hasil kerja sama antara rumah buatan Ravacana Films dengan Dinas Kebudayaan Jogja ini, dibentuk pada 2018 kemudian.

Ceritanya, mengenai sekelompok ibu-ibu yang menempuh perjalanan jauh dari desa mereka untuk menjenguk “ibu lurah” yang tengah di rawat di rumah sakit.

Enggak hanya sekedar memberikan perjalanan ibu-ibu itu saja. Film Tilik ini juga berfokus pada beberapa abjad yang sengaja ditonjolkan, salah satunya yaitu aksara Bu Tejo.

Karakter yang diperankan oleh Siti Fauziah ini, sukses menguras perhatian masyarakat karena dianggap “ibu bawel” yang sangat berhubungan dengan kehidupan kala kini.

Dalam film Tilik, Bu Tejo yang menjadi bintang film utama ini diperlihatkan asyik membicarakan sosok Dian, yang ternyata dikenal selaku kembang desa di lingkungannya.

Bahkan, beberapa ibu-ibu yang ada dalam truk tersebut juga terprovokasi akan informasi yang disebar oleh Bu Tejo, terkecuali Yu Ning.

Sinopsis Film Tilik

Berbicara mengenai pesan akhlak dan finansial dari film Tilik, enggak afdal rasanya jika kita belum membicarakan perihal sinopsis dari film tersebut.

Karena walaupun film ini trend, enggak menjamin kalau seluruh penduduk telah menontonnya di akses YouTube bukan?

Nah, seperti yang sudah dibahas pada poin sebelumnya, film Tilik ini berawal dari cerita rombongan ibu-ibu desa yang pergi ke kota, hanya untuk menjenguk kepala desa mereka di rumah sakit.

Selama perjalanan, diperlihatkan kalau Bu Tejo tengah asyik membicarakan malu warganya sendiri yakni Dian, wanita anggun yang populer di desa mereka.

Bu Tejo ini tidak berhenti menyangkut-pautkan banyak sekali cerita di desanya dengan sosok Dian.

Sehingga, enggak sedikit dari ibu-ibu di dalam truk yang balasannya terprovokasi akan info tersebut, terkecuali Yu Ning.

Karakter Yu Ning disini mampu dikatakan cukup netral sebab beliau terus-menerus mengingatkan Bu Tejo untuk tidak menyebarkan hoax mengenai seseorang.

Alhasil, alasannya perbedaan pertimbangan mereka pun senantiasa saja bertengkar.

Sesampainya di rumah sakit, rombongan tersebut eksklusif disambut oleh Dian dan Fikri (anak ibu lurah).

Sayangnya, para rombongan tidak bisa menemui ibu lurah dikarenakan ia masih dirawat di ICU.

Sehingga, mau enggak mau ibu-ibu tersebut akhirnya menetapkan untuk pergi ke Pasar Beringharjo sebelum kepulangan mereka ke desa.

Pada menit-menit tamat penayangan, penonton bakal dibuat tercengang akan plot twist yang dihadirkan dari film Tilik ini.

Ya, penonton akan melihat bagaimana sosok Dian yang datang-datang bertemu pria paruh baya di dalam kendaraan beroda empat dengan selipan adegan penuh makna. 

Pesan Moral dan Finansal dari Film Tilik

Terus, apa saja sih pesan watak dan finansial dari film Tilik ini? Penasaran kan?

Nah, berikut ini CekAja sajikan banyak sekali makna dari film Tilik yang sangat relate dengan kehidupan abad sekarang.

(Baca Juga: 7 Film Terbaik Mengisahkan Perjuangan Wanita)

Pesan Moral dari Film Tilik

Untuk menyuguhkan berita mengenai pesan etika dan finansial dari film Tilik, CekAja bakal membahasnya secara terpisah. Pada poin ini akan lebih dulu dibahas perihal pesan moralnya.

Sehingga, mempermudah pembaca untuk mengetahui sederet informasi tentang topik utama dari postingan ini, yakni perihal pesan etika dan finansial dari film Tilik.

1. Keperdulian yang masih melekat di masyarakat desa

Pesan susila yang pertama dalam film Tilik ini yaitu tradisi di penduduk yang masih dekat dipegang wacana keperdulian terhadap sesama.

Dalam film ini diperlihatkan bagaimana ibu-ibu desa yang rela menyewa truk warga, cuma untuk menjenguk ibu lurah yang sakit.

Meski cuaca panas dan harus menempuh jarak yang jauh, mereka masih tetap memperdulikan salah satu warganya yang tengah tertimpa musibah.

Bahkan, mereka juga gotong royong menghimpun duit dan membawa kado yang seharusnya diberikan kepada bu lurah.

Sungguh tradisi yang rasanya akan sukar kita peroleh ketika ini di kota-kota besar.

2. Jangan cepat yakin berita yang ada di internet

Terlihat percakapan diantara para rombongan perihal info di internet yang sebaiknya gak langsung diterima mentah-mentah, tepatnya pada menit ke 4:56, 

Sebab, berita tersebut kadang masa menyesatkan pembaca, terutama yang menyangkut wacana kesehatan.

Dalam kepingan adegan itu diterangkan bagaimana salah seorang warga desa yang tertipu akan iklan obat herbal yang dijual di internet.

Ini artinya, kita sebagai netizen harus mengecek keabsahan dari informasi yang diterima, supaya peristiwa seperti di film Tilik tidak terjadi.

Apalagi kini, sudah banyak bermunculan obat herbal dengan iming-iming berkhasiat terlebih bila dipromosikan oleh influencer.

Padahal, belum tentu produk yang diendorse tersebut sungguh-sungguh anggun.

Ya, semuanya kembali lagi pada diri sendiri dan jadilah netizen yang pintar supaya enggak “kemakan” hoax di internet.

3. Aparat negara seharusnya mampu bertindak tegas

Buat kau yang telah menonton film Tilik, pasti telah enggak ajaib lagi dengan adegan di mana polisi diancam oleh Bu Tejo bukan?

Ya, pada menit ke 22:37 terlihat seorang polisi yang datang-datang menilang truk yang tengah menenteng rombongan ibu-ibu tersebut.

Bukannya mematuhi hukum, sebagian ibu-ibu dalam truk justru memarahi polisi itu. Bahkan karakter Bu Tejo nampak menunjukkan kekesalannya.

Dengan yakin diri, Bu Tejo malah menyerang polisi dan melemparkan kata-kata yang tidak sebaiknya, “Apa mau aku telfon kerabat aku yang polisi dan bintangnya lima berjejer?

Enggak hanya itu saja, Bu Tejo bahkan mengancam bakal menggigit polisi kalau truk yang ia tumpangi tetap ditilang.

Uniknya lagi, ternyata adegan tersebut sungguh-sungguh pernah terjadi dalam kehidupan konkret lho. Bagaimana, sudah peroleh pesan moral dari film Tilik ini?

4. Jangan pernah membicarakan aib orang lain

Sepanjang film ini, kamu akan disajikan banyak adegan di mana Bu Tejo selalu menghakimi sosok Dian.

Sekalipun berita yang dikatakannya benar. Namun bukanlah urusannya untuk membicarakan aib orang lain.

Sebaliknya sebagai wanita yang bermoral dan yakin akan agama, telah semestinya dia mempertahankan harga diri wanita lain. Dengan begitu, kita mampu saling menghargai satu sama lain.

5. Punya planning cadangan dalam hidup itu wajib

Pesan etika dari film Tilik berikutnya yang mampu kau ambil yakni saat di mana Bu Tejo memperlihatkan solusi akan keadaan yang mereka alami.

Dia menyarankan biar rombongannya berkunjung ke Pasar Beringhajo, ketimbang mesti menelan ketidakpuasan karena sudah jauh-jauh ke kota untuk menjenguk bu lurah yang ternyata gagal dijalankan.

Meski dibuat kesal akan karakternya, tetapi ternyata ada segi positif dari sosok Bu Tejo.

Hal ini juga bahu-membahu sangat berkaitan dengan kehidupan aktual lho.

Artinya dikala kita tidak menggemari seseorang, bukan bermakna kita juga mesti tidak suka seluruh sifatnya. Karena dibalik kekurangannya, masih ada pula keunggulan yang beliau miliki.

(Baca Juga: bisnis/” target=”_blank” rel=”noreferrer noopener”>4 Ajaran Berbisnis dalam Film John Wick 3)

Aspek Finansial dari Film Tilik

Seperti yang sudah dijanjikan pada permulaan pembahasan. Poin berikutnya yang akan dibahas dari pesan moral dan finansial dari film Tilik ialah faktor finansialnya.

Siapa sangka, bila film ini juga punya makna terpendam mengenai bagaimana uang dipakai dalam kehidupan penduduk desa.

6. Tradisi santunan amplop

Pemberian amplop berisi uang sampai ketika ini masih menjadi tradisi di masyarakat, terutama wilayah Jawa.

Tradisi ini enggak cuma mengambarkan sebagai ucapan selamat dalam pesta ijab kabul saja.

Namun seringnya juga dipakai untuk memberikan kepedulian terhadap orang lain yang tertimpa bencana alam. Hal inilah yang juga diperlihatkan dalam film Tilik.

Film ini jelas-terangan menawarkan adegan di mana sekelompok ibu-ibu menawarkan amplop berisi uang kepada Fikri (anak bu lurah), selaku simbol untuk merenggangkan finansial keluarga mereka.

7. Uang masih disangkut-pautkan dengan politik

Politik dan duit rasanya sukar dilepaskan dalam budaya masyarakat. Inilah yang juga bisa kita anggap sebagai pesan adab dan finansial dari film Tilik.

Dalam salah satu adegan, tampakBu Tejo yang tengah menawarkan amplop berisi uang terhadap gotrek.

Meskipun enggak tersurat memperlihatkan komponen politik, tetapi ternyata suami dari Bu Tejo ini berniat maju sebagai calon lurah.

Artinya, bila ditelisik lebih dalam apalagi setelah mendengar prasangka Yu Ning, mampu kita simpulkan jikalau uang tersebut kemungkinan untuk mempesona warga agar menentukan suaminya sebagai calon pak lurah.

8. Semakin tampakharta yang dipamerkan makin terperinci statusnya

Terakhir, pesan watak dan finansial dari film Tilik yang mampu kau ambil adalah simbol kekayaan.

Pada menit ke 10:54 penonton akan dihidangkan dengan adegan, di mana Bu Tejo secara jelas-terangan menawarkan perhiasan yang dia gunakan. 

Nah, di masyarakat sendiri, semakin banyak suplemen yang digunakan biasanya bakal dianggap kaya raya.

Bukan cuma pikiran. Bahkan tanpa mesti diterangkan, sebetulnya orang yang dengan sengaja memberikan perhiasannya sudah sungguh tampakingin pamer, dan memberikan bahwa beliau mempunyai harta.

Gak cuma Makara Lurah, Jalan Kesuksesan Bisa juga Diraih dengan Menjadi Pebisnis

Itu tadi sederet pesan sopan santun dan finansial dari film Tilik. Melalui film ini, kita bisa tahu bila jabatan mirip lurah di lingkup penduduk pedesaan, bisa dikatakan sebagai jabatan tertinggi.

Padahal, tak selamanya menjadi lurah ialah hal yang paling menakjubkan lho.

Karena, penduduk juga bisa menjadi usahawan dengan mengandalkan hasil alam maupun SDM di lingkup pedesaan.

Untuk problem modalnya, pastinya harus dari CekAja.com. Mengapa?

Soalnya, CekAja menyuguhkan produk santunan tanpa agunan dari mitra bank terkemuka yang dimiliki.

Produk ini semakin unggul alasannya bunganya yang super rendah, ialah cuma 0,65 persen saja.

Bahkan, pengajuannya bisa eksklusif dikerjakan melalui gadget tanpa perlu mendatangi kantor CekAja. Bagaimana, sangat simpel bukan?

Yuk, miliki sumbangan KTA dari CekAja.com dan berdiri bisnismu sendiri biar makin berhasil sampai ke kala yang hendak datang.