0 produk di keranjang belanja Anda
No products in the cart.

10 Kesenian Tradisional Khas Aceh Yang Bikin Gembira Indonesia

Provinsi Aceh mempunyai kesenian bermacam-macam yang sering ditampilkan di acara kebudayaan dalam maupun mancanegara, sehingga bikin besar hati nama Indonesia. Berikut daftar kesenian tradisional khas Aceh yang wajib kau tahu!

10 Kesenian Tradisional Khas Aceh yang Bikin Bangga Indonesia

1. Tari Saman

Tari Saman

Kesenian tradisional khas Aceh yang satu ini sudah banyak dikenal masyarakat Indonesia maupun dunia. Sayangnya, arti Tari Saman yang sebetulnya kerap disamakan dengan tarian lain. mirip Ratoh Jaroe maupun Ratoh Duek.

Sebenarnya, Tari Saman adalah tari yang dibawakan oleh penari pria secara berkelompok. Jumlah penari dalam golongan Tari Saman berjumlah ganjil, minimal 9 orang. Tarian ini yakni tarian khas Suku Gayo, yakni suku tertua di Aceh.

Tari Saman dibawakan dengan gerakan menepuk dada dan lantai, diiringi gendangan rebana oleh seorang syeh yang juga menyanyikan lagu dalam bahasa Gayo. Kostum yang dipakai pun yakni pakaian adab suku Gayo.

2. Ratoh Jaroe

Ratoh Jaroe

Ini beliau tarian yang kerap dimaksud selaku Tari Saman. Ratoh berarti alat musik pukul atau yang biasanya diketahui dengan rebana. Penampil Ratoh Jaroe ialah para perempuan yang tidak diputuskan jumlah penarinya.

Kostum yang digunakan memang nyaris sama dengan penari Saman. Yakni busana adab khas Aceh dengan warna cerah dan kontras, serta menggunakan ciput yang dihiasi oleh banyak sekali aksesoris dan tata rias.

Pada tahun 2018 lalu, Ratoh Jaroe ditampilkan dalam pembukaan Asian Games di Jakarta. Ribuan pelajar berpartisipasi selaku penampil Ratoh Jaroe. Pertunjukan kesenian tradisional khas Aceh ini sontak mendapat apresiasi baik dari warga dunia yang menonton.

3. Didong

Didong

Didong yang mempunyai arti “nyanyian sambil bekerja” merupakan kesenian tradisional khas Aceh yang menggabungkan seni tari, vokal, dan sastra daerah.

Penampil Didong akan duduk berbaris atau membentuk bundar, sambil menggerakkan tangan ke atas dan ke bawah. Sekilas, gerakan ini mempunyai sedikit kesamaan dengan Tari Kecak asal Bali. Apalagi Didong juga ditampilkan oleh sekitar 15 orang laki-laki.

Di antara penari, ada seorang penyanyi yang melantunkan lagu dengan bahasa Aceh Gayo diiringi bunyi tepukan tangan penari.

(Baca Juga: 7 Kesenian Tradisional Khas Bali)

4. Tari Likok Pulo

Tari Likok Pulo

Ini yakni salah satu kesenian tradisional khas Aceh yang terkenal. Sebab Tari Likok Pulo sering ditampilkan di program kebudayaan dalam negeri maupun mancanegara. Rupanya, tarian ini sudah ada sejak tahun 1849, lho.

Tari Likok Pulo dahulu ditampilkan setelah masa tanam maupun panen padi. Gerakannya sangat khas, adalah tangan dan kepala yang bergerak dinamis seolah menyerupai gerakan kincir air. Suara instrumen rapai atau alat musik pukul rebana mengiringi tari ini.

5. Rapai Geleng

Tari Rapa’i Geleng

Kesenian tradisional khas Aceh ini sudah ada semenjak 1952 di kawasan Gampong Seuneulop. Umumnya, Rapai Geleng ditampilkan oleh penari laki-laki berjumlah 10 orang.

Sesuai namanya, tarian ini memiliki gerakan kepala yang menggeleng, dan rapai atau rebana yang berpindah dari tangan penari yang satu dengan yang lainnya. Nilai yang terkandung dalam syair lagu dan tarian ini adalah nilai moral masyarakat, serta nilai dakwah Islam.

6. Rapai Geurimpheng

Rapa'i Geurimpheng

Formasi penari Rapai geurimpheng hampir sama dengan deretan penari Rapai Geleng. Hal yang membedakan ialah gerakan Rapai Geurimpheng lebih beragam. Mulai dari penari yang memukul rapai sambil ikut bernyanyi, serta gerakan tubuh dan kepala yang lebih dinamis.

Ada sekitar delapan sampai 12 penari dalam sekali pentasRapai Geurimpheng. Syair lagu yang dibawakan pun bermacam-macam, seperti shalawat maupun dongeng teladan para Nabi. Nilai tariannya pun masih sama, yaitu seputar dakwah dan nilai-nilai Islam yang lain. Tarian ini pun menjadi salah satu kesenian tradisional khas Aceh yang masih dilestarikan.

7. Tari Laweut atau Tari Seudati

tari seudati

Kesenian tradisional khas Aceh memang identik dengan wadah dakwah Islam yang diiringi doa dan pujian pada Tuhan Yang Maha Esa. Tari Laweut sendiri dibawakan dengan menyanyikan shalawat untuk Nabi Muhammad SAW.

Sebanyak delapan penari wanita dan satu penyanyi tampil dalam pertunjukkan tarian asal tempat Pidie ini yang juga dikenal dengan nama Tari Seudati. Gerakannya hampir sama mirip Tari Saman, namun dibawakan dalam posisi berdiri, dan tanpa iringan musik.

8. Tari Bines

Tari Bines

Tari Bines yakni kesenian tradisional khas Aceh yang berasal dari Kabupaten Gayo Lues yang dibawakan dengan tujuan hiburan. Tarian ini tidak memilih jumlah penari, hanya saja harus dibawakan dalam jumlah genap.

Berbeda dengan kesenian tari Aceh lainnya, penari Bines memakai kostum berbentukbaju lukup, kain sarung dan kain panjang yang seragam, beberapa aksesoris dekorasi tangan, dan tata rambul yang tinggi seperti sanggul.

Tari Bines mulai dibawakan dengan gerakan lambat, kemudian beralih menjadi semakin cepat dalam posisi bangun. Keseruan penampilan Tari Bines ini menjadikannya dijadikan selaku tarian untuk menyambut tamu maupun dalam program pesta ijab kabul.

(Baca Juga: 18 Kesenian Tradisional Khas Jawa Tengah Terlengkap)

9. Tari Tarek Pukat

Tari Tarek Pukat

Kesenian tradisional khas Aceh juga kerap mengambil nilai-nilai keseharian masyarakatnya. Tari Tarek Pukat mengandung nilai sejarah tradisi nelayan saat menangkap ikan dengan jaring.

Sekitar tujuh orang penari wanita menari dengan memakai kostum khas pakaian Aceh. Tarian dibawakan dengan ekspresi ceria, dengan menonjolkan sikap bersama-sama, rasa kebersamaan dan jerih payah. Terdapat pula seutas tali yang dibentuk mirip jaring nelayan.

10. Tari Ula Ula Lembing

Tari Ula Ula Lembing

Eksistensi Tari Ula Ula Lembing ketika ini semakin menurun. Sehingga sebagian orang menganggap tarian ini nyaris langka dan punah dikonsumsi oleh zaman. Tarian ini berasal dari Kabupaten Aceh Tamiang.

Kesenian tradisional khas Aceh ini berfungsi sebagai tarian ritual adat maupun pertunjukan hiburan yang dibawakan oleh sepuluh sampai 16 penari. Tari diiringi oleh lagu Arab, dengan alat musik biola, rebana, telempong, dan canang.

Sedangkan untuk kostum, penari memakai baju tangan panjang teluk belanga khas Aceh Tamiang, dengan warna cerah dan kontras.

Itulah sederet kesenian khas Aceh. Biar makin seru, mempelajari kesenian tempat bisa dilaksanakan sambil jalan-jalan. Di era new normal mirip kini, tidak ada salahnya untuk mencoba pergi jalan-jalan ke tempat rekreasi yang akrab dan tidak terlampau ramai.

Untuk memperbesar rasa amanmu, lengkapi perjalanan wisata dengan asuransi perjalanan yang bisa kau miliki lewat CekAja.com. Yuk, ajukan kini juga!